Gambaran dampak bencana ini cukup suram. Hingga tanggal 1 Desember 2025, data terpadu dari IDAI mencatat kerugian yang besar. Di Sumatera Barat, korban jiwa mencapai 148 orang, termasuk empat di antaranya anak-anak. Ratusan lainnya masih dinyatakan hilang. Sementara di Sumatera Utara, laporan menyebut puluhan korban meninggal dan ratusan warga di daerah seperti Sibolga, Tapanuli, Langkat, dan Binjai terdampak parah. Di Aceh, yang paling terasa adalah gangguan signifikan terhadap akses layanan kesehatan, khususnya di wilayah Pidie Jaya.
Menghadapi situasi itu, respons IDAI di lapangan berjalan cepat. Mereka mengerahkan tenaga medis, membuka layanan kesehatan gratis, dan menyiapkan dukungan psikososial di berbagai posko pengungsian.
Di Sumatera Utara, aksi mereka terpusat di beberapa titik terdampak berat. Di pengungsian Binjai KM 41B, 66 anak diperiksa dengan kasus terbanyak ISPA dan diare. Tak jauh dari sana, di Langkat KM 55, infeksi kulit justru mendominasi dari 25 anak yang diperiksa. Pola serupa terlihat di Medan Barat, di mana puluhan anak juga banyak menderita infeksi saluran pernapasan.
Sementara itu, di Sumatera Barat, upaya tim sedikit berbeda. Selain pengobatan umum di Padang dan Pariaman, mereka juga melakukan skrining tumbuh kembang. Dari 47 anak yang diskrining di Kota Padang, ditemukan satu kasus keterlambatan bicara.
Lain lagi ceritanya di Aceh. Tantangan terbesarnya adalah akses. Untuk mengatasinya, IDAI mengirim Tim Medis Darurat ke RSUD Pidie Jaya dan menggelar klinik keliling untuk menjangkau daerah yang sulit. Mereka juga membuka posko layanan kesehatan di tempat-tempat seperti Masjid Agung Bireuen, berusaha menjangkau siapa saja yang membutuhkan pertolongan.
Artikel Terkait
Rahasia Bunga Pembawa Hoki untuk Sambut Imlek 2026
Andien Buka Suara: Sembilan Bulan Terjebak dalam Hubungan Penuh Manipulasi
Menguak Jerat Child Grooming: Mengapa Korban Sering Sulit Melawan?
Klip Bajakan Serbu Medsos, Produser Film Gigit Jari