Zulkifli Hasan: Kunci Kemajuan Indonesia Ada di Produktivitas, Bukan Bansos
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau yang akrab disapa Zulhas, menegaskan bahwa kemajuan Indonesia sangat bergantung pada peningkatan produktivitas masyarakat. Dalam acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2025 di Jakarta Convention Center, Zulhas menyatakan bahwa bantuan sosial saja tidak cukup untuk memajukan bangsa.
Evaluasi Program Bantuan Sosial Jangka Panjang
Zulhas mengungkapkan perlunya evaluasi terhadap program bantuan sosial beras dan uang yang telah berjalan puluhan tahun. Menurutnya, meski bansos memiliki manfaat, program ini harus dikaji ulang agar tidak hanya bersifat jangka pendek. "Kami bukan tidak setuju bantuan sosial, tentu itu bagus. Tapi kalau bantuan sosial orang susah kasih beras, orang susah kasih uang berpuluh-puluh tahun, saya kira itu kita mesti kaji," tegasnya.
Peringkat Ekonomi Indonesia di Kawasan Asia
Zulhas membandingkan posisi ekonomi Indonesia dengan negara-negara tetangga. Data yang disampaikan menunjukkan bahwa pendapatan per kapita Malaysia telah mencapai 12 ribu USD, Thailand hampir 8 ribu USD, sementara Indonesia masih berada di level 4 ribu USD lebih. "Kenapa? Karena mereka produktif," jelas Zulhas mengenai penyebab ketertinggalan ini.
Kilas Balik Kejayaan Ekonomi Indonesia Era 1980-an
Dalam paparannya, Zulhas mengingatkan bahwa pada dekade 1980-an, produk domestik bruto Indonesia bahkan lebih tinggi daripada China. Saat itu Indonesia telah memiliki berbagai industri strategis seperti pesawat terbang, Krakatau Steel, PT PAL, petrokimia, pabrik pupuk, dan satelit Palapa. Pertumbuhan ekonomi nasional pada masa itu mampu mencapai rata-rata 7,5 persen selama bertahun-tahun.
Refleksi 28 Tahun Reformasi dan Target Pertumbuhan Ekonomi
Zulhas menyoroti kondisi perekonomian Indonesia setelah 28 tahun reformasi. Meski mengakui adanya kemajuan dibanding masa lalu, ia menekankan bahwa Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain di kawasan. Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi tinggi bukanlah hal mustahil mengingat pencapaian serupa pernah terwujud di masa lalu.
Dengan menekankan pentingnya produktivitas, Zulhas berharap Indonesia dapat kembali bersaing dengan negara-negara lain dan mencapai kemajuan ekonomi yang lebih signifikan di masa depan.
Artikel Terkait
IHSG Ditutup Menguat 1,15 Persen ke 7.174, Didorong Sektor Konsumer dan Keuangan
IHSG Ditutup Menguat 1,15 Persen ke 7.174, Saham DPUM dan ESIP Puncaki Top Gainer
HM Sampoerna Sewakan Pabrik dan Gudang ke Philip Morris Indonesia Senilai Rp347,5 Miliar
RATU Proyeksikan Laba Melonjak 117 Persen Usai Akuisisi Aset Migas