Iran menyatakan kesiapannya untuk membantu kapal-kapal Jepang melintasi Selat Hormuz. Jalur sempit itu memang vital untuk pasokan bahan bakar global. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang dengan tegas membantah negaranya menutup akses pelayaran di selat tersebut.
Menurut sejumlah saksi, situasi di sana sempat mencekam. Sebagai balasan atas serangan AS dan Israel, Iran sebelumnya efektif menutup selat itu. Akibatnya, negara-negara yang bergantung pada rute ini, termasuk Jepang, pun kalang kabut. Mereka berburu rute alternatif dan menggerakkan cadangan minyak yang ada.
Nah, dalam wawancara telepon dengan Kyodo News pada Jumat lalu, Araghchi justru meluruskan narasi itu. Ia menyangkal penutupan dan malah menawarkan bantuan.
"Kami belum menutup selat tersebut. Selat itu terbuka," tegasnya.
Ia kemudian menambahkan, Iran siap memastikan jalur aman khusus bagi Jepang. Ini tentu jadi angin segar bagi Negeri Matahari Terbit.
Pasalnya, ketergantungan Jepang sangat tinggi. Sebagai importir minyak terbesar kelima di dunia, hampir 95% pasokannya berasal dari Timur Tengah. Dan dari jumlah itu, sekitar 70% harus melewati Selat Hormuz. Bayangkan, ekonomi terbesar keempat dunia itu sangat bergantung pada selat yang kerap memanas ini.
Di sisi lain, Araghchi juga memberi sinyal keras. Negara-negara yang menyerang Iran, ujarnya, akan menghadapi pembatasan. Sementara bagi pihak lain yang tak bermusuhan, bantuan justru ditawarkan. Sebuah strategi diplomatik yang cukup jelas, membedakan kawan dari lawan di tengah ketegangan.
Artikel Terkait
Tembok SDN Tebet Barat 08 Pagi Roboh Akibat Hujan Deras, Belajar Dialihkan ke PJJ
Banjir Setinggi 35 Cm Rendam Simpang Puri Kembangan, Lalu Lintas Menuju Cengkareng Macet Panjang
Menteri LHK Apresiasi Inovasi Tabung Harmoni Hijau dan Pengelolaan Sampah Berbasis Energi di Riau
Manchester City Gagal Manfaatkan Peluang, Tertahan di Puncak Usai Imbang 3-3 Lawan Everton