IDXChannel – PT Timah (Persero) Tbk (TINS) punya rencana besar untuk 2026. Mereka fokus menggenjot produksi dan hilirisasi. Strateginya cukup ekspansif, kata manajemen.
Mereka ingin memanfaatkan momentum harga timah global yang masih tinggi. Di sisi lain, aktivitas tambang ilegal makin diperketat. Hal ini jelas berdampak pada pasokan logam timah di pasar dunia.
“Perseroan memposisikan diri untuk memanfaatkan momentum harga timah global yang tinggi dan penertiban tambang ilegal di Indonesia yang cukup mempengaruhi aliran supply logam timah secara global,” ujar Direktur Utama Timah, Restu Widiyantoro, dalam keterbukaan informasi BEI, Minggu (26/4/2026).
Nah, di sektor hilir, TINS juga tidak tinggal diam. Mereka akan memperluas pengembangan produk bernilai tambah. Ini bagian dari strategi diversifikasi, supaya tidak bergantung pada satu lini saja.
Selain itu, efisiensi operasional di seluruh lini bisnis juga digalakkan. Anak usaha dioptimalkan kinerjanya. Aset-aset non-operasi pun akan dimanfaatkan sebaik mungkin. Semua ini demi menjaga kinerja tetap berkelanjutan.
Langkah ekspansi ini sebenarnya sudah didukung oleh kinerja keuangan yang solid sepanjang 2025. TINS membukukan laba bersih Rp1,31 triliun. Angka ini tumbuh sekitar 10 persen dibanding tahun sebelumnya yang Rp1,19 triliun.
Dari sisi pendapatan, ada kenaikan 6,14 persen menjadi Rp11,55 triliun. Sebelumnya, di 2024, pendapatannya Rp10,86 triliun. Kenaikan ini sejalan dengan harga jual rata-rata logam timah di London Metal Exchange (LME) yang naik sekitar 13 persen tepatnya dari USD30.177,45 per ton menjadi USD34.119,96 per ton.
Meski begitu, beban pokok pendapatan ikut naik 8,41 persen, menjadi Rp8,79 triliun. Laba usaha tercatat Rp1,91 triliun. Ini mencerminkan tekanan biaya yang cukup terasa di tengah upaya ekspansi dan peningkatan produksi.
Jadi, meskipun momentum pasar sedang bagus, tantangan biaya tetap harus diwaspadai.
Artikel Terkait
Pendapatan Berulang Dominan, Pondok Indah Group Diproyeksi Raup Laba Bersih Rp1,2 Triliun pada 2026
Pefindo Turunkan Peringkat Adhi Commuter Properti dan Obligasinya Imbas Penundaan Kupon
ALII Raih Kredit Investasi Rp494,5 Miliar dari BRI untuk Ekspansi Armada
Vale Indonesia (INCO) Eksekusi Opsi Greenshoe USD250 Juta, Total Fasilitas Kredit Membengkak Jadi USD750 Juta