IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Asing Tarik Dana Hingga Rp2 Triliun dalam Sehari

- Minggu, 26 April 2026 | 11:00 WIB
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Asing Tarik Dana Hingga Rp2 Triliun dalam Sehari

IDXChannel – Pekan lalu jadi pekan yang berat buat IHSG. Indeks harga saham gabungan kita ambles cukup dalam, dan ini bukan tanpa sebab. Tekanan dari luar negeri makin kuat, ditambah aksi jual investor asing yang deras banget.

Dalam sepekan, IHSG tercatat turun 6,6 persen. Lebih detailnya, pada perdagangan Jumat (24/4/2026), indeks ditutup merosot 3,38 persen ke level 7.129. Angka yang bikin banyak pelaku pasar menghela napas panjang.

Nah, yang bikin situasi makin panas adalah arus keluar dana asing. Catat saja, net foreign outflow pada Kamis (23/4/2026) mencapai Rp979 miliar. Lalu sehari kemudian, Jumat, jumlahnya melonjak drastis jadi Rp2 triliun. Bayangkan, dalam dua hari saja hampir Rp3 triliun kabur dari pasar saham kita.

Menariknya, aksi jual ini nggak sembarangan. Sasaran utamanya adalah saham-saham big caps, terutama sektor perbankan dan energi. Menurut riset Stockbit yang kami kutip Minggu (26/4/2026), beberapa saham yang paling diincar untuk dilego antara lain PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).

Konsentrasi outflow di saham-saham gede ini sebenarnya mencerminkan satu hal: persepsi investor global terhadap aset berisiko di Indonesia lagi buruk-buruknya. Mereka lebih milih cabut dulu, daripada ambil risiko.

Di sisi lain, salah satu pemicu utama pelemahan IHSG adalah tekanan di nilai tukar rupiah. Mata uang kita sempat menyentuh titik terendah sepanjang masa, lho. Pada perdagangan intraday Kamis (23/4/2026), rupiah menyentuh Rp17.315 per dolar AS. Angka yang bikin siapa pun yang punya utang dolar pasti deg-degan.

Secara year-to-date (ytd), rupiah sudah terdepresiasi sekitar 3,1 persen. Tapi jangan kira kita sendiri, karena tren ini juga terjadi di negara berkembang lain. Baht Thailand turun 2,9 persen, peso Filipina 3,2 persen, won Korea Selatan 3 persen, dan rupee India malah 4,9 persen. Jadi kita agak lega, meski nggak sepenuhnya.

Namun begitu, tekanan terhadap rupiah makin diperparah oleh kenaikan harga minyak global. Harga minyak kembali menembus level psikologis USD100 per barel. Lonjakan ini dipicu gangguan pasokan di Selat Hormuz yang masih berlanjut. Kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global pun meningkat.

Menurut Stockbit, meskipun harga minyak saat ini belum kembali ke puncak ketidakpastian konflik di pertengahan Maret 2026 yang sempat menyentuh kisaran USD120 per barel, tekanan terhadap fiskal Indonesia berpotensi meningkat apabila harga energi bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Ini soal waktu, bukan soal apakah akan terjadi atau tidak.

Masalahnya, ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang cenderung menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) secara selektif. Dalam kondisi harga minyak tinggi, kebijakan semacam itu berisiko memperlebar beban subsidi energi dan menekan ruang fiskal negara. Jadi pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: naikkan harga BBM dan hadapi risiko inflasi, atau pertahankan subsidi dan beban anggaran membengkak.

Untuk itu, investor disarankan mencermati langkah pemerintah dalam merespons skenario harga minyak yang tinggi berkepanjangan (higher-for-longer). Termasuk kemungkinan realokasi anggaran maupun penyesuaian program belanja negara. Karena pada akhirnya, semua keputusan ini akan berdampak langsung ke pasar saham.

(DESI ANGRIANI)

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar