SKK Migas Dorong Teknologi Fracturing untuk Tingkatkan Produksi Migas di Lapangan Tua

- Selasa, 21 April 2026 | 19:55 WIB
SKK Migas Dorong Teknologi Fracturing untuk Tingkatkan Produksi Migas di Lapangan Tua

Di tengah upaya mendongkrak produksi minyak dan gas nasional, SKK Migas terus mendorong pemanfaatan teknologi di lapangan. Salah satu program andalannya adalah Triple 100, yang mencakup seratus sumur eksplorasi, seratus pekerjaan fracturing multi-tahap, dan seratus sumur pengembangan baru. Program ini digeber bareng para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Nah, terkait program fracturing itu, Deputi Eksplorasi SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, baru-baru ini meninjau langsung proyek sumur MSF BLSE-050. Lokasinya di Lapangan Balam South East, Wilayah Kerja Rokan, yang dikelola PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Menurut Rikky, teknologi Multi Stage Fracturing ini adalah langkah krusial. Terutama untuk mengoptimalkan lapangan migas yang sudah tua atau punya reservoir berkualitas rendah, tapi cadangannya masih melimpah.

“Program MSF ini upaya nyata untuk meningkatkan produksi dari lapangan-lapangan reservoir berkualitas rendah. Dengan teknologi ini, jalur aliran minyak yang sebelumnya tersumbat bisa dibuka. Potensi yang tadinya terpendam akhirnya bisa dimanfaatkan,” jelas Rikky, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan, suksesnya program ini tentu butuh sinergi kuat. Tidak hanya antara SKK Migas dan KKKS, tapi juga dengan para penyedia jasa dan dukungan operasional di lapangan.

“Kami mendorong percepatan, tapi aspek keselamatan dan efisiensi biaya tetap jadi prioritas. Dukungan peralatan, percepatan pembebasan lahan, penguatan kapasitas, semua kami pastikan. Targetnya, 15 sumur MSF tahun 2026 bisa tuntas dan memberi kontribusi berarti buat produksi nasional,” tambahnya.

Di sisi lain, Andre Wijanarko, General Manager PHR Zona Rokan, membeberkan detail teknisnya. MSF memang jadi strategi kunci untuk lapangan dengan reservoir ‘rewel’ di mana minyaknya enggan mengalir dengan sendirinya. Caranya? Batuan direkah dengan tekanan tinggi supaya jalur minyaknya terbuka.

Metode ini dilakukan bertahap pada sumur horizontal, biar aliran hidrokarbonnya lebih lancar dan produksi pun naik.

Untuk tahun ini, rencananya ada 15 sumur MSF yang akan dikerjakan. Lokasinya tersebar di tiga lapangan: Balam South East, Bangko, dan Kotabatak. Masing-masing dapat jatah lima sumur.

Andre mengakui, sumur MSF ini termasuk proyek high profile. Ekspektasi produksinya tinggi, tapi tantangan operasional dan biayanya juga nggak main-main. Makanya, PHR berupaya maksimal agar eksekusinya berjalan sempurna untuk hasil yang optimal.

“Sampai saat ini, dua sumur pertama sudah menyelesaikan fracturing tahap pertama. Mereka sedang bersiap masuk ke tahap berikutnya, yang rencananya sampai delapan tahap. Diharapkan onstream di akhir Mei. Selain itu, ada dua sumur lagi yang masih dalam proses pengeboran, dan empat sumur lainnya sudah siap dibor,” papar Andre.

Dari sisi pengawas, Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, C.W. Wicaksono, menegaskan komitmennya. Pihaknya akan terus mengawasi dan berkoordinasi intens dengan PHR.

“SKK Migas akan mengawal proyek strategis ini agar berjalan optimal. Tujuannya jelas: mendukung target produksi nasional, ketahanan energi, dan tentu saja memberi manfaat yang lebih luas buat masyarakat,” ujar Wicaksono.

Kunjungan kerja itu juga dihadiri sejumlah pejabat lain. Antara lain Kepala Divisi Optimalisasi Cadangan Sri Andaryani, Kepala Departemen Operasi Sumbagut Sebastian Julius, Staf Ahli Deputi Eksploitasi Areiyando Makmun, serta manajemen PHR Zona Rokan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar