Angkanya benar-benar fantastis. Sepanjang 2025 lalu, Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) yang dioperasikan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi hingga Rp1.382,1 triliun. Bayangkan, itu melonjak drastis tepatnya 461,6 persen dibandingkan realisasi setahun sebelumnya.
Lalu, apa penyebabnya? Ternyata, lonjakan ini tak lepas dari kehadiran fitur baru: transaksi repurchase agreement atau repo. Fitur itu mulai berjalan di platform SPPA sejak pertengahan Maret 2025. Dan hasilnya? Cukup mencengangkan. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, transaksi repo saja sudah menyumbang Rp751,6 triliun.
“Sejak diluncurkan, transaksi perdagangan efek bersifat utang dan sukuk di SPPA terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,” jelas Kristian S. Manullang, Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI.
“Sepanjang 2025, kami melihat lonjakan yang sangat signifikan baik dari sisi nilai maupun aktivitas transaksi,” tambahnya saat acara SPPA Award 2025 di Main Hall BEI, Senin (13/4/2026).
Menurut Kristian, implementasi repo memang jadi faktor utama. Fitur itu berhasil mendongkrak likuiditas dan menggenjot aktivitas perdagangan.
“Implementasi repo menjadi salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan likuiditas dan aktivitas perdagangan di SPPA,” katanya.
Tapi bukan cuma repo yang bersinar. Transaksi outright atau jual beli putus juga menunjukkan performa kuat. Nilainya tembus Rp630,5 triliun, naik 156,2 persen year-on-year.
Artikel Terkait
Wall Street Dibuka Merah, Dihantui Ketegangan Iran dan Inflasi yang Membandel
RGAS Rencanakan Diversifikasi ke Bisnis Material Konstruksi pada 2026
Prabowo Ucapkan Terima Kasih kepada Putin atas Dukungan Masuknya Indonesia ke BRICS
YULE Bagikan Dividen Rp15,8 Miliar, Cair 13 Mei 2026