Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, tampak percaya diri. Ia baru saja mengumumkan sebuah gencatan senjata dengan Iran, dan baginya, ini adalah sebuah kemenangan besar. "Kemenangan total dan sepenuhnya. 100 persen. Tidak ada keraguan tentang hal itu," tegas Trump dalam sebuah percakapan telepon dengan AFP, Rabu lalu.
Ia meyakini langkah ini akan membuka jalan bagi kesepakatan yang lebih permanen antara Washington dan Teheran. Perundingan sendiri dikabarkan akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Pengumuman resminya sendiri disampaikan melalui Truth Social, Selasa malam. Dalam pernyataan itu, Trump setuju untuk menghentikan serangan terhadap Iran selama dua pekan. Namun begitu, ada syarat yang ia berikan: Iran harus membuka kembali Selat Hormuz. Dan itu harus dilakukan, dalam kata-kapnya yang dikapitalisasi, "SEPENUHNYA, SEGERA, dan AMAN."
Soal bagaimana teknis pembukaan selat vital itu, terutama untuk lalu lintas kapal tanker minyak, masih ada titik-titik kabur. Tapi Trump bersikeras bahwa fondasinya sudah kuat. Menurutnya, sudah ada kerangka kerja yang jelas untuk kesepakatan jangka panjang.
"Kita memiliki transaksi 15 poin, yang sebagian besar telah disepakati. Kita lihat saja apa yang terjadi," ucapnya, terdengar optimis namun tetap menyisakan ruang untuk kemungkinan lain.
Dalam wawancara yang sama, Trump juga menyelipkan peran China. Ia yakin Beijing punya andil dalam membujuk Iran untuk kembali ke meja perundingan. Tak lupa, ia menyebut soal uranium Iran yang akan "ditangani secara sempurna" sebuah frasa yang ia lontarkan tanpa penjelasan rinci lebih lanjut.
Di sisi lain, Trump tampaknya melihat celah dari proposal yang diajukan Iran. Ia menyebut ada sebuah draf 10 poin dari Teheran yang menurutnya bisa dijadikan pijakan. Proposal itu, katanya, "dapat dilaksanakan" dan mungkin menjadi dasar untuk pembicaraan lebih jauh.
Semua ini terjadi di tengah tekanan waktu. Gencatan senjata dua minggu itu diumumkan menjelang berakhirnya tenggat waktu yang sebelumnya ditetapkan Trump sendiri untuk sebuah serangan besar-besaran. Sekarang, dunia menunggu. Apakah jeda ini hanya jeda sesaat, atau benar-benar awal dari sesuatu yang baru?
Artikel Terkait
Tangis Haru dan Saling Memaafkan Warnai Puncak Wukuf Jemaah Haji ESQ Tours di Arafah
Militer Israel Klaim Tewaskan Kepala Baru Sayap Bersenjata Hamas di Tengah Gencatan Senjata
Anak-anak Gaza Paksa Bekerja di Tengah Puing Iduladha demi Menopang Keluarga
Anggota DPR Dorong Pemerintah Perkuat Beasiswa dan Optimalisasi CSR untuk Pendidikan Vokasi