Perusahaan publik RGAS, atau PT Kian Santang Muliatama Tbk, punya rencana baru. Mereka bakal masuk ke bisnis perdagangan bahan konstruksi, perkakas, sampai peralatan perpipaan dan pemanas. Ini adalah lini usaha yang sama sekali baru bagi mereka.
Rencana ekspansi ini tentu saja butuh lampu hijau dari para pemegang saham. Nah, persetujuan itu rencananya akan diminta dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang dijadwalkan pada 20 Mei 2026 mendatang. Jadi, masih ada waktu untuk persiapan.
Lalu, soal pendanaan. Untuk mengawali bisnis barunya ini, RGAS menyiapkan dana sekitar Rp1,09 miliar. Angka ini untuk investasi awal sekaligus modal kerja yang akan mulai digelontorkan di tahun 2026. Yang menarik, manajemen menegaskan semua dananya bakal diambil dari kas internal perusahaan. Mereka tampaknya tak mau menambah beban utang.
Dalam prospektus yang dirilis Senin (13/4/2026), pihak perusahaan menyatakan keyakinannya.
“Rencana transaksi berupa penambahan KBLI yang akan dilakukan oleh Perseroan adalah layak,” tulis manajemen RGAS.
Kalau dilihat dari proyeksi keuangannya, kebutuhan modal kerja dari tahun ke tahun terlihat naik perlahan. Mulai dari Rp201,68 juta di 2026, diproyeksikan bakal merangkak hingga mencapai Rp550,24 juta pada 2032. Angka-angka ini menunjukkan bahwa perusahaan memperhitungkan pertumbuhan bisnis barunya secara bertahap.
Selama ini, RGAS sudah berkutat di perdagangan besar mesin dan peralatan, plus jasa instalasi untuk sektor mekanikal dan migas. Dengan menambah bidang usaha baru yang tercatat dalam KBLI 46739 ini, mereka berharap bisa lebih kompetitif. Terutama dalam mendukung proyek-proyek di sektor minyak dan gas yang memang menjadi basis mereka.
Jadi, langkah ini bukan sekadar diversifikasi biasa. Tapi lebih pada upaya memperkuat posisi di lini bisnis yang masih berhubungan erat dengan core business mereka saat ini.
(DESI ANGRIANI)
Artikel Terkait
Kemenkeu Juarai Turnamen Catur Antar-Emiten dan Kementerian di BEI
Prospek Bank Syariah Cerah di Tengah Tekanan Pasar Modal, Bisnis Emas dan Haji Jadi Motor Pertumbuhan
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Fiskal Domestik dan Ketidakpastian Moneter Global
KWT Mawar 8 di Tangerang Jaga Kualitas Sayur Hidroponik, Utamakan Mutu Dibanding Volume Panen