Wall Street mulai pekan ini dengan catatan merah. Ketegangan geopolitik yang memanas, ditambah sinyal inflasi yang masih mengkhawatirkan, langsung menekan pasar begitu bel pembukaan berbunyi.
Indeks S&P 500 merosot 0,7 persen ke 6.806,25. Sementara itu, Nasdaq dan Dow Jones Futures juga ikut terperosok, masing-masing melemah 0,8 persen dan 0,7 persen.
Pemicu utamanya? Kegagalan negosiasi gencatan senjata AS-Iran akhir pekan lalu. Responsnya pun datang cepat. Presiden Donald Trump langsung memerintahkan blokade penuh di Selat Hormuz, yang rencananya berlaku mulai Senin pagi waktu setempat.
Kebijakan itu sempat membuat futures anjlok lebih dari 1 persen. Tapi kerugiannya sedikit terpangkas setelah ada klarifikasi dari Komando Pusat AS. Mereka bilang, blokade hanya akan menargetkan kapal dan pelabuhan Iran saja.
Meski begitu, situasinya tetap rumit. Pertemuan di Pakistan pun tampaknya tak membuahkan hasil. Peluang untuk meredakan ketegangan dalam waktu dekat terlihat semakin kecil. Dua hal yang masih jadi ganjalan: aktivitas nuklir Iran dan soal pembukaan jalur pelayaran di selat strategis itu.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak mentah melonjak tajam. Brent bahkan berhasil menembus lagi level psikologis USD100 per barel. Nah, lonjakan inilah yang bikin investor waswas. Kekhawatiran inflasi akibat energi bisa kembali menghantui dalam beberapa bulan mendatang.
Sentimen negatif makin menjadi-jadi setelah data inflasi AS untuk Maret dirilis. Indeks Harga Konsumen (CPI) naik cukup signifikan. Gangguan pasokan minyak akibat konflik Iran disebut-sebut sebagai penyumbang utama kenaikan itu.
Kondisi ini bikin banyak orang khawatir. Inflasi yang membandel berpotensi menggerus pertumbuhan ekonomi ke depan.
Lalu, bagaimana dengan Federal Reserve? Tekanan inflasi yang terus bertahan jelas mempersulit langkah mereka. Ruang untuk memotong suku bunga jadi sangat terbatas. Bukan tidak mungkin, kebijakan moneter ketat akan dipertahankan hingga akhir tahun ini.
Jadi, awal pekan di Wall Street ini benar-benar diwarnai ketidakpastian. Geopolitik dan inflasi, sekali lagi, menjadi duo yang menggerus sentimen investor.
Artikel Terkait
Wall Street Terkoreksi, Saham Alphabet Anjlok Imbas Rencana Pendanaan AI Raksasa
Harga Tembaga Melonjak ke Level Tertinggi Dua Pekan Dipicu Ketidakpastian Tarif AS dan Pasokan Mengetat
PACK Pastikan Regulasi Ekspor Baru Tak Ganggu Kinerja Perusahaan
IHSG Ditutup Menguat 1,49 Persen ke Level 6.218,86 pada Sesi Pertama Perdagangan