"Kalau ekspor nggak bisa mengejar kenaikan produksi musiman, ya stok akhir pasti akan naik lagi. Itu bakal bikin harga susah pulih dalam waktu dekat. Idealnya ekspor tetap kuat, tapi melihat situasi sekarang, hal itu sulit," ujarnya.
Perkataannya dikutip dari Reuters. Di hari yang sama, lembaga pemantau kargo diperkirakan akan merilis estimasi ekspor minyak sawit Malaysia untuk periode tersebut, yang tentunya dinanti-nanti para pelaku pasar.
Pergerakan di pasar komoditas lain cukup beragam. Di Dalian, kontrak minyak kedelai naik 0,61 persen, sementara minyak sawitnya naik 1,12 persen. Sedangkan di Chicago, harga minyak kedelai menguat sangat tipis, hanya 0,01 persen. Seperti biasa, minyak sawit memang punya kecenderungan mengikuti tren minyak nabati pesaingnya karena persaingan ketat di pasar global.
Sementara itu, harga minyak mentah dunia justru mengalami kenaikan. Pemicunya adalah kekhawatiran baru soal pasokan dari Arab Saudi dan lalu lintas tanker di Selat Hormuz yang masih terbatas. Nah, kenaikan harga minyak mentah ini sebenarnya bisa jadi angin segar untuk CPO, karena membuatnya lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel. Tapi tampaknya, sentimen positif itu belum cukup kuat untuk mengangkat harganya hari ini.
Artikel Terkait
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Yield Capai 8,4%
Cimory Bagikan Dividen Rp1,59 Triliun dari Laba Bersih Rp2,03 Triliun
IHSG Melonjak 2,07%, Sentimen Beli Dominasi Pasar Saham
Saham TRUK Melonjak 24,73% Meski Rugi, WBSA IPO Diserbu Investor