Trader minyak berbasis Dubai, Shohruh Zukhritdinov, memberikan pandangannya. Menurutnya, pasar kini paham bahwa membukanya Selat Hormuz bukanlah solusi instan.
“Sekarang dengan infrastruktur Saudi terkena serangan, pasar menyadari bahwa bahkan jika Hormuz dibuka besok, fleksibilitas ekspor Saudi akan terganggu selama berminggu-minggu,” ujarnya.
Di lapangan, ketegangan belum reda. Israel dilaporkan kembali membombardir sejumlah target di Lebanon pada Kamis, aksi yang berpotensi membahayakan gencatan senjata yang sudah rapuh itu.
Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Perdagangan BOK Financial, melihat harga minyak mulai mencoba bangkit. “Kontrak minyak mentah mengambil kembali sebagian kerugian kemarin karena Selat Hormuz masih hanya dilalui sebagian kecil lalu lintas, jauh lebih rendah dari yang diperkirakan pasar,” katanya.
Susannah Streeter, Kepala Strategi Investasi Wealth Club, menambahkan catatan penting. Dia mengingatkan bahwa risiko akan tetap tinggi untuk sementara waktu.
“Bahkan jika pengiriman kembali normal, risikonya tidak akan hilang dalam semalam. Kapal tanker mungkin harus melewati perairan yang dipenuhi ranjau dan kehadiran militer yang meningkat, yang akan menjaga premi asuransi dan biaya pengiriman tetap tinggi,” jelas Streeter.
Kebutuhan akan kejelasan pun disuarakan oleh para pelaku. Sejumlah perusahaan pelayaran pada Rabu menyatakan mereka masih butuh kepastian soal syarat-syarat gencatan senjata sebelum berani melintasi Selat Hormuz kembali. Sementara itu, media Iran melaporkan pemerintahnya telah menerbitkan peta jalur aman. Peta ini dimaksudkan untuk membantu kapal menghindari ranjau dan menentukan rute pelayaran yang lebih aman.
Pasar minyak dunia, sekali lagi, menari di atas ketidakpastian.
Artikel Terkait
BEI Soroti Sembilan Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
IHSG Bangkit Usai Gencatan Senjata, Analis Ingatkan Risiko Masih Membayangi
Gencatan Senjata AS-Iran Pacu Bursa Asia Menguat, Investor Tetap Waspada
IHSG Menguat Hampir 1 Persen di Awal Perdagangan Jumat