Kekayaan di zaman sekarang nggak cuma soal angka di rekening atau aset yang kita pegang. Ia sudah berubah wujud jadi citra, jadi cerita, jadi tampilan visual yang dipoles sedemikian rupa. Intinya, seseorang bisa terlihat "kaya raya" padahal kondisi sebenarnya jauh dari kata mapan.
Nah, dari sinilah fenomena "fake rich" atau kaya semu itu muncul dan makin menjadi-jadi. Semuanya diproduksi lewat unggahan di Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya.
Tapi jangan salah, fenomena ini bukan cuma soal pamer tas branded atau liburan ke Bali. Ini lebih dalam dari itu. Fake rich itu gejala sosial yang kompleks, berkaitan erat dengan pergeseran arti sukses, tekanan gila-gilaan di dunia maya, sampai krisis literasi keuangan dan masalah etika.
Media sosial sekarang ini udah berubah. Ia bukan lagi sekadar ruang ekspresi, tapi lebih mirip panggung kompetisi simbolik. Tempat orang berlomba-lomba menunjukkan "keberhasilan", meski di balik layar mereka harus menutupinya dengan utang dan kepura-puraan.
Logika media sosial itu memang visual banget. Algoritmanya lebih suka pada hasil, bukan proses. Foto mobil mewah atau liburan ke luar negeri jelas lebih 'menjual' ketimbang cerita soal menabung pelan-pelan atau kerja keras bertahun-tahun.
Di ruang seperti ini, kekayaan nggak harus nyata. Cukup tampak kaya saja. Barang bisa disewa, uang bisa dipinjam, gaya hidup bisa dicicil. Yang penting, citra sukses itu berhasil dibuat dan divalidasi lewat likes, komentar, dan jumlah followers.
Media sosial, dengan demikian, berubah jadi mesin pembuat ilusi. Simbol-simbol kemapanan dipajang tanpa perlu fondasi ekonomi yang kuat sebagai penyangganya.
Budaya influencer memperkuat semua ini. Banyak figur di media sosial yang menampilkan diri sebagai wajah kesuksesan instan: muda, modis, jalan-jalan terus, hidup tanpa beban. Narasinya sederhana dan menggoda: "Semua bisa sukses asal mau usaha."
Tapi realitas di balik layar? Seringkali jauh berbeda. Utang, tekanan menjaga citra, atau ketidakstabilan finansial jarang sekali diumbar.
Memamerkan kekayaan sebetulnya bukan hal baru. Tapi di era digital, flexing mengalami demokratisasi. Dulu cuma orang kaya beneran yang bisa pamer, sekarang siapa saja bisa. Dengan bantuan teknologi dan kemudahan kredit, ilusi itu mudah dibangun.
Di sinilah fake rich lahir. Ini bukan sekadar pamer, tapi penciptaan identitas palsu soal kemapanan. Seseorang bisa tampak "naik kelas" secara sosial, meski secara ekonomi justru terjepit. Cicilan menumpuk, tabungan tipis, masa depan rapuh semua tertutupi unggahan yang glamor.
Ironisnya, gaya hidup semu ini sering dapat apresiasi. Lingkungan digital memberi ganjaran berupa atensi dan pengakuan. Di masyarakat yang nilai dirinya diukur dari persepsi publik, pengakuan ini terasa lebih berharga daripada stabilitas finansial untuk jangka panjang.
Fenomena ini juga nggak bisa dipisahkan dari maraknya layanan paylater, kartu kredit digital, dan pinjaman online. Instrumen keuangan ini sejatinya netral. Bisa membantu kalau dipakai bijak. Tapi dalam budaya pamer dan tekanan sosial, ia jadi bahan bakar ilusi.
Dengan paylater, orang bisa beli hp terbaru atau tiket liburan tanpa punya uang tunai. Jarak antara keinginan dan kemampuan ditutup oleh utang. Yang muncul ke publik adalah citra sukses, sementara konsekuensinya ditunda ke masa depan.
Masalahnya, masa depan belum tentu ramah. Saat cicilan menumpuk dan pendapatan stagnan, ilusi itu runtuh. Banyak orang akhirnya terjebak dalam lingkaran utang, cuma buat mempertahankan gaya hidup yang dari awal nggak sesuai kemampuan. Fake rich berubah jadi krisis finansial yang pelik.
Media sosial juga menciptakan ruang perbandingan yang nggak ada habisnya. Kita nggak lagi cuma bandingin diri sama tetangga, tapi dengan ribuan orang yang menampilkan versi terbaik hidup mereka. Hidup sederhana jadi terasa kalah, bahkan dianggap gagal.
Tekanan ini paling kuat dirasakan generasi muda dan kelas menengah kota. Mereka di persimpangan: penghasilan terbatas, tapi ekspektasi sosialnya tinggi. Dituntut mapan, tapi dijejali standar hidup mewah dari algoritma.
Fake rich jadi jalan pintas untuk bertahan. Ia memberi rasa "ikut serta" dalam perlombaan simbolik, meski isinya kosong. Lebih baik tampak berhasil daripada jujur mengakui sedang berproses.
Di balik semua ini, ada persoalan serius: rendahnya literasi keuangan. Banyak orang paham cara beli, tapi nggak paham cara mengelola. Penghasilan dilihat sebagai alat konsumsi, bukan sumber daya yang harus diatur untuk masa depan.
Artikel Terkait
Taksi Listrik Ngamuk, Hancurkan Restoran Ayam Goreng di Tangerang
Menteri Tito Izinkan Warga Manfaatkan Kayu Hanyut untuk Bangun Kembali Rumah
Siswa Jakarta Borong Medali Emas di Ajang Inovasi Internasional Bangkok
PDIP Tegaskan Dukungan untuk Pilkada Langsung di Tengah Rakernas