Kaya Semu: Ketika Gengsi Mengalahkan Kemampuan Finansial

- Jumat, 09 Januari 2026 | 10:05 WIB
Kaya Semu: Ketika Gengsi Mengalahkan Kemampuan Finansial
Kaya Semu di Era Pamer

Kekayaan di zaman sekarang nggak cuma soal angka di rekening atau aset yang kita pegang. Ia sudah berubah wujud jadi citra, jadi cerita, jadi tampilan visual yang dipoles sedemikian rupa. Intinya, seseorang bisa terlihat "kaya raya" padahal kondisi sebenarnya jauh dari kata mapan.

Nah, dari sinilah fenomena "fake rich" atau kaya semu itu muncul dan makin menjadi-jadi. Semuanya diproduksi lewat unggahan di Instagram, TikTok, dan berbagai platform digital lainnya.

Tapi jangan salah, fenomena ini bukan cuma soal pamer tas branded atau liburan ke Bali. Ini lebih dalam dari itu. Fake rich itu gejala sosial yang kompleks, berkaitan erat dengan pergeseran arti sukses, tekanan gila-gilaan di dunia maya, sampai krisis literasi keuangan dan masalah etika.

Media sosial sekarang ini udah berubah. Ia bukan lagi sekadar ruang ekspresi, tapi lebih mirip panggung kompetisi simbolik. Tempat orang berlomba-lomba menunjukkan "keberhasilan", meski di balik layar mereka harus menutupinya dengan utang dan kepura-puraan.

Logika media sosial itu memang visual banget. Algoritmanya lebih suka pada hasil, bukan proses. Foto mobil mewah atau liburan ke luar negeri jelas lebih 'menjual' ketimbang cerita soal menabung pelan-pelan atau kerja keras bertahun-tahun.

Di ruang seperti ini, kekayaan nggak harus nyata. Cukup tampak kaya saja. Barang bisa disewa, uang bisa dipinjam, gaya hidup bisa dicicil. Yang penting, citra sukses itu berhasil dibuat dan divalidasi lewat likes, komentar, dan jumlah followers.

Media sosial, dengan demikian, berubah jadi mesin pembuat ilusi. Simbol-simbol kemapanan dipajang tanpa perlu fondasi ekonomi yang kuat sebagai penyangganya.

Budaya influencer memperkuat semua ini. Banyak figur di media sosial yang menampilkan diri sebagai wajah kesuksesan instan: muda, modis, jalan-jalan terus, hidup tanpa beban. Narasinya sederhana dan menggoda: "Semua bisa sukses asal mau usaha."

Tapi realitas di balik layar? Seringkali jauh berbeda. Utang, tekanan menjaga citra, atau ketidakstabilan finansial jarang sekali diumbar.

Memamerkan kekayaan sebetulnya bukan hal baru. Tapi di era digital, flexing mengalami demokratisasi. Dulu cuma orang kaya beneran yang bisa pamer, sekarang siapa saja bisa. Dengan bantuan teknologi dan kemudahan kredit, ilusi itu mudah dibangun.

Di sinilah fake rich lahir. Ini bukan sekadar pamer, tapi penciptaan identitas palsu soal kemapanan. Seseorang bisa tampak "naik kelas" secara sosial, meski secara ekonomi justru terjepit. Cicilan menumpuk, tabungan tipis, masa depan rapuh semua tertutupi unggahan yang glamor.

Ironisnya, gaya hidup semu ini sering dapat apresiasi. Lingkungan digital memberi ganjaran berupa atensi dan pengakuan. Di masyarakat yang nilai dirinya diukur dari persepsi publik, pengakuan ini terasa lebih berharga daripada stabilitas finansial untuk jangka panjang.

Fenomena ini juga nggak bisa dipisahkan dari maraknya layanan paylater, kartu kredit digital, dan pinjaman online. Instrumen keuangan ini sejatinya netral. Bisa membantu kalau dipakai bijak. Tapi dalam budaya pamer dan tekanan sosial, ia jadi bahan bakar ilusi.

Dengan paylater, orang bisa beli hp terbaru atau tiket liburan tanpa punya uang tunai. Jarak antara keinginan dan kemampuan ditutup oleh utang. Yang muncul ke publik adalah citra sukses, sementara konsekuensinya ditunda ke masa depan.

Masalahnya, masa depan belum tentu ramah. Saat cicilan menumpuk dan pendapatan stagnan, ilusi itu runtuh. Banyak orang akhirnya terjebak dalam lingkaran utang, cuma buat mempertahankan gaya hidup yang dari awal nggak sesuai kemampuan. Fake rich berubah jadi krisis finansial yang pelik.

Media sosial juga menciptakan ruang perbandingan yang nggak ada habisnya. Kita nggak lagi cuma bandingin diri sama tetangga, tapi dengan ribuan orang yang menampilkan versi terbaik hidup mereka. Hidup sederhana jadi terasa kalah, bahkan dianggap gagal.

Tekanan ini paling kuat dirasakan generasi muda dan kelas menengah kota. Mereka di persimpangan: penghasilan terbatas, tapi ekspektasi sosialnya tinggi. Dituntut mapan, tapi dijejali standar hidup mewah dari algoritma.

Fake rich jadi jalan pintas untuk bertahan. Ia memberi rasa "ikut serta" dalam perlombaan simbolik, meski isinya kosong. Lebih baik tampak berhasil daripada jujur mengakui sedang berproses.

Di balik semua ini, ada persoalan serius: rendahnya literasi keuangan. Banyak orang paham cara beli, tapi nggak paham cara mengelola. Penghasilan dilihat sebagai alat konsumsi, bukan sumber daya yang harus diatur untuk masa depan.

Literasi yang lemah bikin utang dianggap wajar, bahkan jadi gaya hidup. Cicilan nggak dilihat sebagai beban, tapi pembuka jalan menuju citra sukses. Padahal, tanpa perencanaan matang, utang justru jadi jebakan.

Parahnya lagi, media sosial jarang kasih ruang untuk narasi keuangan yang realistis. Soal dana darurat, investasi jangka panjang, atau hidup sesuai kemampuan jarang viral. Yang rame justru cerita sukses instan dan pamer hasil.

Fenomena ini juga berkait erat dengan kebutuhan psikologis akan validasi. Di masyarakat digital, pengakuan sering datang dari angka likes dan followers, bukan dari kedalaman relasi.

Buat sebagian orang, tampil kaya jadi cara menegaskan eksistensi. Barang bermerek dan gaya hidup mewah jadi simbol status yang menggantikan pencapaian yang substantif. Ketika pengakuan dari dalam diri rapuh, simbol dari luar jadi sandaran.

Tapi validasi macam ini rapuh. Harus terus diperbarui. Sekali berhenti pamer, identitas terasa runtuh. Di titik ini, fake rich jadi beban psikologis. Hidup dijalani bukan untuk diri sendiri, tapi untuk mempertahankan citra.

Dampaknya pun meluas ke sosial. Pertama, ia mendistorsi makna sukses. Sukses direduksi jadi kepemilikan simbolik, bukan kontribusi nyata atau kemandirian ekonomi.

Kedua, ia memperlebar jurang kecemburuan sosial. Ketika banyak orang tampak hidup mewah, ketidakpuasan kolektif meningkat. Padahal yang terlihat sering cuma ilusi. Tapi ilusi yang diulang-ulang bisa membentuk persepsi publik.

Ketiga, fake rich berpotensi memperkuat budaya konsumtif dan melemahkan etos produktif. Fokusnya bergeser dari mencipta nilai ke memamerkan hasil.

Dari kacamata etika, termasuk etika keagamaan, fenomena ini patut dikritisi. Ia dekat dengan sikap berlebihan, pamer, dan ketidakjujuran pada diri sendiri. Hidup dijalani berdasarkan gengsi, bukan kebutuhan dan nilai.

Kesederhanaan, yang dulu dianggap kebajikan, kini sering dipandang sebagai kegagalan. Padahal, banyak tradisi moral menempatkan kesederhanaan sebagai fondasi ketenangan hidup.

Kritik etis ini bukan untuk menolak kemajuan atau kenikmatan. Tapi untuk mengingatkan, gaya hidup harus berakar pada realitas dan tanggung jawab, bukan ilusi dan utang.

Media massa dan negara punya peran penting. Media perlu lebih banyak menghadirkan narasi alternatif tentang sukses yang realistis dan manusiawi. Tidak semua cerita inspiratif harus glamor.

Sementara negara perlu memperkuat literasi keuangan sejak dini dan membuat regulasi yang melindungi masyarakat dari praktik kredit yang agresif. Edukasi soal utang dan perencanaan keuangan nggak boleh kalah masif dari promosi gaya hidup.

Pada akhirnya, fake rich adalah cermin zaman kita. Ia menunjukkan masyarakat yang semakin visual, kompetitif, dan haus pengakuan. Tapi fenomena ini juga membuka ruang untuk refleksi: apakah hidup yang kita jalani benar-benar milik kita, atau cuma pertunjukan untuk dilihat orang lain?

Kesadaran baru dibutuhkan. Kemapanan sejati tak selalu tampak, dan kesuksesan tak harus diumumkan. Hidup yang sehat secara finansial mungkin sunyi dari sorotan, tapi ia memberi ketenangan jangka panjang.

Di tengah hiruk-pikuk media sosial, keberanian untuk hidup sesuai kemampuan adalah bentuk perlawanan yang elegan. Menjadi "cukup" di dunia yang selalu menuntut "lebih" mungkin tidak akan viral. Tapi bisa jadi, itulah kekayaan yang paling nyata.

Mohammad Nur Rianto Al Arif.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah dan Sekjen DPP Asosiasi Dosen Indonesia.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar