Harga minyak kembali naik untuk hari kedua, Kamis kemarin. Pasar tampaknya masih gamang, dihantui oleh gencatan senjata yang terasa rapuh di Timur Tengah. Di sisi lain, ada juga pernyataan dari Israel yang siap berunding langsung dengan Lebanon. Situasinya benar-benar berubah setiap jam.
Di awal sesi perdagangan, sentimennya cukup suram. Keraguan terhadap kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang baru berumur dua pekan langsung memicu kekhawatiran. Apa yang dikhawatirkan? Tentu saja soal kelancaran aliran energi lewat Selat Hormuz. Kekhawatiran itu mendorong kenaikan harga lebih dari 5 persen, sebuah lonjakan yang signifikan.
Namun begitu, kenaikan itu tak bertahan lama. Sentimen sedikit mereda setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu angkat bicara. Dia menyatakan sudah menginstruksikan pejabatnya untuk membuka pembicaraan damai dengan Lebanon. Isu perlucutan senjata Hizbullah juga disebut akan dibahas.
Pada penutupan, minyak mentah Brent bertahan di zona hijau dengan kenaikan 1,2 persen ke level USD95,92 per barel. Padahal, sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi harian di USD99,50. Sementara itu, minyak acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), melesat lebih tinggi, naik 3,7 persen ke USD97,87 per barel. Meski begitu, angka itu jauh dari puncak intraday-nya yang mencapai USD102,70.
Perdagangan sebelumnya sempat memberi harapan, dengan kedua acuan minyak jatuh di bawah level psikologis USD100. WTI bahkan mencatat penurunan terburuk sejak awal pandemi April 2020. Kala itu, optimisme muncul karena gencatan senjata diharapkan bisa membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Sayangnya, harapan itu tampaknya terlalu prematur.
Kenapa? Karena efektivitas gencatan senjata itu sendiri masih dipertanyakan. Faktanya, lalu lintas kapal melalui selat vital itu pada Kamis kemarin anjlok. Volumenya jauh di bawah 10 persen dari kondisi normal. Iran disebut-sebut masih memegang kendali dengan memperingatkan kapal-kapal agar tetap berada di perairan teritorialnya. Di tengah situasi ini, harga beberapa minyak fisik malah mencetak rekor tertinggi baru.
Peran Selat Hormuz memang tak bisa diremehkan. Selat ini adalah jalur nadi yang menghubungkan pasokan minyak dari raksasa-raksasa produsen di Teluk seperti Irak, Arab Saudi, Kuwait, dan Qatar ke pasar global. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia biasanya mengalir lewat sini.
Kekhawatiran tak cuma datang dari selat. Gangguan pasokan dari Arab Saudi kembali mencuat. Menurut laporan kantor berita negara SPA, sebuah serangan disebut memangkas kapasitas produksi minyak kerajaan sekitar 600.000 barel per hari. Aliran pipa East-West juga turun sekitar 700.000 barel per hari. Kabar ini langsung menggoyang pasar.
Laporan serangan ke Saudi itu sempat mendorong harga Brent dan WTI naik lebih dari USD1 per barel dalam perdagangan setelah penutupan resmi. Tampaknya, pasar mulai menyadari kompleksitas masalah ini.
Artikel Terkait
BEI Soroti Sembilan Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
IHSG Bangkit Usai Gencatan Senjata, Analis Ingatkan Risiko Masih Membayangi
Gencatan Senjata AS-Iran Pacu Bursa Asia Menguat, Investor Tetap Waspada
IHSG Menguat Hampir 1 Persen di Awal Perdagangan Jumat