Dengan asumsi harga yang lebih tinggi, Indo Premier menaikkan estimasi laba sektor sawit untuk 2026-2027 sebesar 15-20%. Pertumbuhan laba sektor diproyeksikan 13% di 2026 dan 2% di 2027. Meski begitu, tekanan tetap ada. Biaya pembelian eksternal, pupuk, dan potensi penurunan volume akibat El Niño bisa jadi ganjalan. Baru di 2028, laba inti sektor diproyeksikan tumbuh sekitar 6%, didorong turunnya biaya pupuk dan produksi yang stabil.
Secara keseluruhan, prospeknya jauh lebih cerah. Mereka memproyeksikan pertumbuhan laba sektor sawit bakal mencapai CAGR 7% untuk periode 2025-2028. Angka ini merupakan perbaikan signifikan dari proyeksi sebelumnya yang masih negatif.
Melihat prospek itu, Indo Premier tak ragu mengubah rekomendasi untuk sektor sawit menjadi overweight, dari sebelumnya netral. Valuasi sektor dinilai masih menarik, dengan kisaran 7 kali price to earnings (P/E) 2026 dan PEG ratio 0,5 kali untuk tahun yang sama. Artinya, masih ada ruang untuk kenaikan harga saham.
Beberapa saham spesifik juga dinaikkan rekomendasinya. TAPG dan LSIP kini direkomendasikan menjadi “beli”, sementara AALI dipertahankan di “tahan” karena berpotensi mengalami penurunan laba di 2026 akibat tingginya pembelian eksternal.
Siapa bintang utamanya? TAPG ditempatkan sebagai top pick. Alasannya, pertumbuhan labanya diproyeksikan mencapai 27% di 2026, dengan PEG ratio sangat rendah di 0,3 kali. Eksposur pembelian dari pihak ketiganya rendah, plus dividennya menarik. Posisi kedua ditempati DSNG, dengan pertumbuhan laba sekitar 20% dan PEG 0,4 kali. Sementara LSIP mulai menarik karena berpotensi mencetak pertumbuhan laba positif pada 2026-2027.
Namun begitu, investor tetap harus waspada. Risiko utama sektor ini, menurut Indo Premier, masih berasal dari ketegangan geopolitik yang berkepanjangan. Perubahan kebijakan dan regulasi yang tiba-tiba juga bisa memengaruhi implementasi B50 dan stabilitas harga CPO ke depannya.
Catatan: Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Ketegangan di Selat Hormuz dan Serangan Israel Picu Lesunya Pasar Saham Asia
Harga Emas Antam Turun Rp50 Ribu per Gram, Buyback Anjlok Rp59 Ribu
IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan, Analis Soroti Enam Rekomendasi Saham
Harga Emas Melonjak Dekati Level Tertinggi Usai Gencatan Senjata AS-Iran