Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya. Pada Rabu (8/4/2026), logam kuning itu sempat melesat mendekati level tertingginya dalam hampir tiga pekan. Sentimen pasar berubah setelah ada kabar gencatan senjata antara Washington dan Teheran.
Emas spot akhirnya menguat 0,30 persen ke posisi USD4.718,96 per troy ons. Padahal, dalam sesi perdagangan sebelumnya, kenaikannya bahkan pernah menembus lebih dari 3 persen. Ini adalah level tertinggi sejak 19 Maret lalu.
Pemicu utamanya? Melemahnya dolar AS dan harga minyak. Dolar yang lunglai terhadap sekeranjang mata uang utama membuat emas yang harganya dikutip dalam dolar jadi lebih terjangkau bagi investor dari negara lain. Sementara itu, minyak tergelincir di bawah angka psikologis USD100 per barel setelah gencatan senjata diumumkan.
Analis Marex, Edward Meir, memberikan pandangannya.
“Gencatan senjata menenangkan pasar dan meredakan tekanan. Ini bisa membantu menurunkan sebagian tekanan inflasi dan membuka peluang pemangkasan suku bunga The Fed, yang menjadi sentimen bullish bagi emas,” ujarnya.
Tapi Meir juga mengingatkan agar kita tidak terlalu cepat berpuas diri.
“Namun situasinya masih sangat rapuh. Banyak elemen yang masih perlu dinegosiasikan. Kondisi ini bisa dengan mudah berubah, dan pemulihan di berbagai pasar bisa saja hanya bersifat jangka pendek. Kita masih belum sepenuhnya keluar dari risiko.”
Memang, gencatan senjata dua pekan yang dimediasi Pakistan itu belum berarti damai sepenuhnya. Di saat yang sama, Israel justru meningkatkan intensitas perang paralelnya di Lebanon. Situasi tetap rumit.
Perlu diingat, perjalanan emas belakangan ini tidak mulus. Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari, harga emas spot tercatat sudah anjlok 10 persen. Kala itu, lonjakan harga energi memicu kekhawatiran inflasi akut, yang pada gilirannya memangkas harapan investor akan penurunan suku bunga.
Dan suku bunga tinggi adalah musuh bagi aset seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil. Ironisnya, meski dikenal sebagai lindung nilai inflasi, logam mulia ini justru kerap tertekan ketika bank sentral bersikap agresif menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi.
Risalah rapat The Fed Maret lalu mengungkap kekhawatiran itu. Semakin banyak pembuat kebijakan yang menilai kenaikan suku bunga mungkin masih diperlukan. Inflasi AS, yang terpacu oleh dampak perang, masih jauh melampaui target 2 persen mereka.
Nah, akhir pekan ini akan menjadi momen penting. Dua indikator inflasi kunci AS, yaitu Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) dan Indeks Harga Konsumen (CPI), akan dirilis. Data-data inilah yang akan memberi gambaran lebih jelas tentang arah kebijakan The Fed ke depan.
Emas bukan satu-satunya yang bergerak. Logam mulia lainnya juga meroket. Perak spot melonjak 3,3 persen, platinum naik 5,3 persen, dan paladium bahkan meroket 7,6 persen. Pasar tampaknya sedang mencari napas setelah bulan-bulan yang penuh gejolak.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Sistem Tol Tanpa Palang Masih Tahap Uji Fungsi Dasar
Pabrik Baru PT Mulia Boga Raya (KEJU) Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif
WMUU Bakal Rights Issue Rp600 Miliar, Harga Penawaran Lebih Tinggi dari Pasar