Wall Street mencatatkan performa gemilang pada Selasa (26/5/2026) dengan mayoritas indeks saham ditutup menguat. Indeks S&P 500 dan Nasdaq berhasil menorehkan rekor penutupan tertinggi, didorong oleh optimisme yang meluas di sektor kecerdasan buatan (AI). Momentum positif ini mampu meredam kekhawatiran pasar yang sempat muncul akibat ketidakpastian perundingan perdamaian di Timur Tengah.
Indeks Dow Jones Industrial Average justru tercatat melemah 118,02 poin atau 0,23 persen ke level 50.461,68. Namun, S&P 500 berhasil naik 45,65 poin atau 0,61 persen ke posisi 7.519,12, sementara Nasdaq Composite melesat 312,21 poin atau 1,19 persen ke angka 26.656,18. Tak hanya itu, indeks S&P 500, Nasdaq, dan Russell 2000 juga mencapai rekor tertinggi intraday pada hari yang sama, menegaskan kekuatan reli yang tengah berlangsung.
Di bursa Nasdaq, sebanyak 3.078 saham tercatat naik berbanding 1.785 saham yang turun, dengan rasio kenaikan terhadap penurunan mencapai 1,72 banding 1. Sementara itu, indeks S&P 500 mencatat 42 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan hanya satu rekor terendah baru. Indeks Komposit Nasdaq bahkan menorehkan 185 rekor tertinggi baru dan 70 rekor terendah baru. Volume perdagangan di bursa Amerika Serikat mencapai 18,85 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 18,71 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Sektor semikonduktor menjadi motor utama penguatan. Indeks Semikonduktor Philadelphia SE melonjak 5,5 persen dan menembus rekor tertinggi sepanjang masa. Saham Qualcomm naik hampir 4,5 persen setelah Bloomberg News melaporkan kesepakatan dengan ByteDance, pemilik TikTok, untuk memasok chip. Marvell Technology juga ditutup menguat 6 persen. Micron bahkan melonjak 19 persen dan mencapai nilai pasar satu triliun dolar AS untuk pertama kalinya, setelah UBS menaikkan target harga sahamnya dari 535 dolar AS menjadi 1.625 dolar AS.
Musim laporan keuangan kuartal pertama turut mendukung optimisme. Pertumbuhan laba diperkirakan mencapai 29 persen secara tahunan, jauh melampaui perkiraan awal yang hanya 16,1 persen sebulan lalu. Saham-saham yang naik di NYSE melebihi yang turun dengan rasio 2,47 banding 1, dengan 627 rekor tertinggi baru dan 90 rekor terendah baru.
Para investor kini mulai mengalihkan perhatian ke penawaran umum perdana (IPO) beberapa perusahaan swasta AI terbesar, termasuk SpaceX. Namun, di tengah euforia ini, Kepala Investasi di Northlight Asset Management, Chris Zaccarell, mengingatkan akan adanya risiko historis.
“Bagi kami yang sudah berkecimpung di bidang ini cukup lama, lonjakan harga saham teknologi yang kita saksikan tahun ini mengingatkan pada masa kejayaan di akhir tahun 1990-an,” ujarnya.
“Mungkin juga, beberapa pelajaran yang dipetik setelah gelembung teknologi meledak lebih dari 25 tahun lalu akan mencegah hal yang sama terulang kembali,” lanjutnya.
Di sisi lain, pasar merasa lega setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa kesepakatan dengan Teheran untuk menghentikan konflik mungkin hanya memakan waktu beberapa hari. Pernyataan ini turut meredakan ketegangan geopolitik yang sempat membayangi pergerakan bursa.
Artikel Terkait
Anak Usaha Chandra Asri Resmi Kelola Pelabuhan di Cilegon Perkuat Logistik Industri Petrokimia
Serangan AS di Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Brent, Selat Hormuz Kembali Terancam
Wall Street Ditutup Mixed, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru di Tengah Optimisme AI
Wall Street Cetak Rekor Penutupan Tertinggi, Optimisme AI Atasi Ketegangan Timur Tengah