Harga kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak sekitar empat persen pada Selasa (26/5/2026) setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan di Iran. Eskalasi militer ini memupus harapan yang sempat mengemuka pada akhir pekan lalu bahwa Washington dan Teheran akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Lebih dari itu, serangan tersebut juga meredam optimisme untuk membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, salah satu titik transit energi paling strategis di dunia.
Sementara harga Brent justru menunjukkan penguatan, kontrak berjangka minyak mentah Amerika Serikat justru mengalami penurunan. Pergerakan ini mengikuti tren aksi jual yang terjadi pada hari Senin di pasar Brent, saat bursa AS sedang tutup. Pada hari Senin, harga minyak Brent ditutup di level terendah sejak 20 April setelah ambles tujuh persen, seiring munculnya kembali harapan akan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Di sisi lain, harga minyak mentah AS turun karena pasar tutup pada hari Senin akibat libur Hari Peringatan atau Memorial Day. West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada level terendah sejak 22 April pada hari Selasa. Kontrak berjangka bensin AS juga turun tujuh persen, sementara solar AS ambles empat persen ke level penutupan terendah dalam lima pekan terakhir.
Pejabat AS sebelumnya telah beberapa kali menyatakan bahwa mereka hampir mencapai kesepakatan dengan Iran untuk mengakhiri konflik. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan yang tercapai di luar gencatan senjata sementara yang telah meredam serangan hingga ke tingkat minimum. Iran mengeklaim bahwa AS telah melanggar gencatan senjata setelah melakukan apa yang disebutnya sebagai serangan defensif di selatan Iran. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa negosiasi kesepakatan untuk menghentikan konflik dapat memakan waktu beberapa hari.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa serangan AS di Provinsi Hormozgan, Iran selatan di mana media Iran melaporkan suara ledakan terdengar pada Selasa dini hari merupakan pelanggaran berat terhadap gencatan senjata yang rapuh dan telah berlaku selama hampir tujuh pekan. Kedua belah pihak sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman yang bertujuan menghentikan perang dan memulihkan kembali pengiriman melalui wilayah yang diblokade. Nota itu juga memberikan waktu 60 hari kepada para negosiator untuk membahas isu-isu yang lebih kompleks, termasuk program nuklir Iran.
“Kami masih menunggu rincian lebih lanjut mengenai kemungkinan kesepakatan tersebut,” ujar Giovanni Staunovo dari UBS.
“Sementara itu, kami melihat ketegangan kembali memuncak di Timur Tengah, sementara arus lalu lintas di Selat tersebut tetap dibatasi,” katanya.
Serangan AS itu terjadi saat negosiator utama Iran dan menteri luar negerinya sedang berada di Doha untuk melakukan pembicaraan dengan perdana menteri Qatar guna mencapai kesepakatan.
Artikel Terkait
Anak Usaha Chandra Asri Resmi Kelola Pelabuhan di Cilegon Perkuat Logistik Industri Petrokimia
S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Penutupan Tertinggi, Saham AI dan Semikonduktor Pimpin Penguatan
Wall Street Ditutup Mixed, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru di Tengah Optimisme AI
Wall Street Cetak Rekor Penutupan Tertinggi, Optimisme AI Atasi Ketegangan Timur Tengah