Di sisi lain, situasi geopolitik yang mencekam justru mengerek nilai dolar AS sebagai aset safe haven. Kombinasi dolar yang menguat dan imbal hasil obligasi yang menarik itu membuat kilau emas meredup. Logam kuning kehilangan daya tariknya di mata investor.
Faktor lain yang turut memberi tekanan adalah aksi jual dari sejumlah bank sentral. Meski tidak disebutkan secara rinci, langkah mereka ikut menambah beban di pasar.
Jadi, ringkasnya, penurunan harga emas ini adalah buah dari sebuah badai sempurna: risiko geopolitik, tekanan inflasi, perubahan kebijakan moneter, dan pergeseran arus modal ke dolar. Pasar kini menunggu dengan waspada, melihat bagaimana The Fed akan merespons situasi yang serba tidak pasti ini.
Artikel Terkait
PLN Tegaskan Tidak Ada Pengembalian Dana untuk Token Listrik yang Salah Beli
Laba Tugu Insurance Melonjak 77% Jadi Rp711 Miliar di 2025
Wall Street Hadapi Pekan Penuh Ujian: Data Inflasi dan Laporan Laba Jadi Sorotan
MDKA Proyeksikan Kontribusi Emas Melonjak Signifikan pada 2026