Maret 2026 menjadi bulan yang kelam bagi logam mulia. Harga emas dunia tercatat ambruk tajam, anjlok hingga 11,3 persen. Penurunan bulanan sebesar itu, menurut catatan, adalah yang terparah sejak gemuruh krisis keuangan global melanda dunia di tahun 2008.
Pemicu utama gejolak ini tak lain adalah konflik yang meledak di Timur Tengah pada akhir Februari lalu. Situasinya memanas setelah Iran membalas serangan dari Amerika Serikat dan Israel dengan langkah yang mengguncang pasar energi global: menutup Selat Hormuz.
Seperti diketahui, selat itu adalah jalur vital bagi ekspor minyak dan gas. Penutupannya otomatis melambungkan harga energi. Nah, di sinilah masalahnya mulai berantai. Kenaikan harga minyak itu memicu kekhawatiran baru soal inflasi yang bisa makin menggila.
Kekhawatiran inflasi ini, pada gilirannya, mengubah ekspektasi pasar terhadap Federal Reserve. Sentimen yang sebelumnya ramah berbalik arah. Imbal hasil obligasi pemerintah AS meroket, didorong spekulasi bahwa The Fed mungkin akan mengambil sikap lebih "hawkish" atau ketat. Bahkan, harapan akan potensi penurunan suku bunga di tahun ini pun kini memudar dengan cepat. Yang beredar adalah wacana bahwa bank sentral AS kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Artikel Terkait
PLN Tegaskan Tidak Ada Pengembalian Dana untuk Token Listrik yang Salah Beli
Laba Tugu Insurance Melonjak 77% Jadi Rp711 Miliar di 2025
Wall Street Hadapi Pekan Penuh Ujian: Data Inflasi dan Laporan Laba Jadi Sorotan
MDKA Proyeksikan Kontribusi Emas Melonjak Signifikan pada 2026