Pasar saham Indonesia menutup pekan ini dengan catatan merah. IHSG, barometer utama bursa kita, terpangkas hampir satu persen ke level 7.026,782 pada Kamis (2/4/2026). Padahal, pekan sebelumnya indeks masih bertengger di 7.097,057. Pekan ini benar-benar berlangsung fluktuatif, dengan IHSG sempat melesat ke 7.207,166 tapi juga terjun bebas hingga menyentuh dasar di 6.945,502.
Tekanan datang dari mana? Salah satu penyebab utamanya adalah arus dana asing yang berbalik arah keluar. Tekanan jual dari investor luar negeri ini cukup signifikan, dan dampaknya langsung terasa pada aktivitas perdagangan.
Lihat saja nilai transaksi hariannya. Angkanya anjlok tajam, turun 36,69% menjadi hanya Rp14,77 triliun. Volume saham yang diperdagangkan juga ikut merosot, meski tak sedrastis nilainya. Yang menarik, justru frekuensi transaksinya naik sedikit, sekitar 3%. Artinya, meski uang yang berputar lebih kecil, pasar tetap ramai dengan aktivitas mungkin didominasi oleh trader ritel yang bermain di saham-saham murah.
Secara keseluruhan, pekan ini tercatat 103,47 miliar saham berpindah tangan dengan nilai total Rp59,08 triliun. Kapitalisasi pasar pun ikut menyusut, berkurang Rp211 triliun menjadi Rp12.305 triliun. Tekanan jual asing ini punya angka konkret: aksi jual bersihnya mencapai Rp2,95 triliun sepanjang pekan.
Namun begitu, tidak semua sektor terpuruk. Pergerakan indeks sektoral justru menunjukkan warna-warni yang kontras. Sektor consumer cyclicals, misalnya, malah meroket 6,58%, menjadi penyumbang penguatan terbesar. Sektor industri dan consumer non-cyclicals juga ikut menguat.
Artikel Terkait
WIKA Catat Kerugian Rp9,75 Triliun di 2025 Meski Raih Kontrak Baru Rp17,46 Triliun
OJK dan BEI Rampungkan Empat Agenda Reformasi Transparansi Pasar Modal
PTPP Lakukan Penyesuaian Akuntansi untuk Perkuat Fondasi Keuangan Jangka Panjang
BEI Umumkan Daftar Saham dengan Kepemilikan Sangat Terkonsentrasi, BREN dan DSSA Masuk Kategori