Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (30/3/2026). Ini sudah hari kedua berturut-turut logam kuning itu naik, didorong oleh gelombang permintaan investor yang mencari aset aman di tengah gejolak.
Tapi jangan dulu berharap terlalu tinggi. Secara bulanan, harga emas masih terperosok dalam zona merah. Konflik di Timur Tengah yang tak kunjung reda justru memicu kekhawatiran inflasi dan spekulasi kenaikan suku bunga global dua hal yang biasanya jadi musuh bagi emas.
Pada sesi terakhir, emas spot bertengger di angka USD4.511,01 per troy ons, naik 0,35 persen. Angka ini sedikit menghibur, mengingat awal pekan lalu harganya sempat terjun bebas ke level terendah sejak November.
Jim Wyckoff, analis senior Kitco Metals, punya pandangannya. Menurutnya, perang yang terus berkecamuk tanpa prospek damai jelas itulah yang mendongkrak minat pada safe haven seperti emas.
"Fokus pasar dalam jangka pendek akan tertuju pada perkembangan perang, harga minyak mentah, imbal hasil obligasi, dan indeks dolar AS," ujarnya.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik justru semakin panas. Presiden AS Donald Trump baru-baru ini mengeluarkan pernyataan keras. Ia mengancam akan menghancurkan fasilitas energi Iran jika negara tersebut tidak membuka Selat Hormuz. Ancaman ini muncul setelah Teheran menolak proposal perdamaian AS dan meluncurkan serangan rudal ke Israel.
Kalau dilihat dari performa sepanjang Maret, situasinya suram. Harga emas anjlok lebih dari 14 persen. Bisa dibilang, ini bakal jadi kinerja bulanan terburuk sejak 2008. Lonjakan harga energi bikin semua orang waswas soal inflasi, dan akhirnya pasar memprediksi suku bunga akan lebih tinggi lagi.
Memang, emas sering diandalkan sebagai tameng melawan inflasi dan ketidakpastian. Tapi logam ini punya kelemahan: ia tidak memberikan imbal hasil. Jadi, ketika suku bunga melambung tinggi, daya tariknya langsung memudar.
Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell sedikit memberi ruang. Ia bilang bank sentral AS masih bisa bersabar, menunggu untuk melihat dampak perang Iran terhadap perekonomian dan inflasi sebelum bertindak. The Fed sendiri belum lama ini mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50-3,75 persen.
Nah, pekan ini sejumlah data ekonomi AS akan dirilis. Mulai dari data lowongan kerja, penjualan ritel, sampai laporan ketenagakerjaan. Data-data ini tentu akan jadi bahan pertimbangan penting untuk membaca arah kebijakan selanjutnya.
Lalu, ke mana harga emas akan bergerak? Fawad Razaqzada, analis dari City Index dan FOREX.com, menyoroti area USD4.700-USD4.750 sebagai zona kritis.
"Area itu jadi zona uji bagi pemulihan jangka pendek," katanya. Ia mengingatkan, jika harga gagal menembus level tersebut, rally yang terjadi sekarang berisiko kehilangan momentum dan berakhir seperti kenaikan-kenaikan sebelumnya yang cuma sesaat.
Sementara itu, logam mulia lainnya juga ikut merangkak naik. Perak spot naik 1 persen ke USD70,27 per ons. Platinum menguat 1,6 persen, dan palladium bahkan melonjak 2,9 persen. Mereka sepertinya ikut menikmati sedikit sentimen positif yang tersisa di pasar.
Artikel Terkait
13,3 Juta SPT Tahunan 2025 Masuk, DJP Catat Kepatuhan Pajak Didominasi Karyawan
Rupiah Terperosok ke Rp17.667 per Dolar AS, Tertekan Ketegangan Timur Tengah dan Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed
PGN Siap Serap Pasokan Gas dari Proyek Abadi LNG Blok Masela, Teken Kesepakatan dengan Inpex
Carsurin Tetap Bagi Dividen Rp962 Juta Meski Laba Bersih Anjlok 75 Persen