Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami pelemahan pada akhir perdagangan hari ini, tertekan oleh kombinasi sentimen global dan domestik yang saling bertumpuk. Mata uang Garuda tercatat turun 13,5 poin atau sekitar 0,08 persen ke level Rp17.667 per dolar AS, melanjutkan tren negatif yang membayangi pasar keuangan beberapa hari terakhir.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa tekanan utama berasal dari pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut perang dengan Iran berada di “tahap akhir.” Meskipun pernyataan tersebut sempat memicu optimisme, Trump juga memberikan peringatan tegas bahwa kegagalan mencapai kesepakatan akan memicu lebih banyak aksi militer AS terhadap Iran. Sikap ambivalen ini, menurut Ibrahim, justru membatasi ruang gerak optimisme pasar secara luas.
“Selat Hormuz sebagian besar tetap tertutup, sehingga harga minyak relatif tetap tinggi meskipun terjadi penurunan tajam awal pekan ini,” tulis Ibrahim dalam catatan risetnya, Kamis (21/5/2026).
Situasi di kawasan Timur Tengah masih menjadi pusat perhatian. Iran baru-baru ini mengumumkan pembentukan “Otoritas Selat Teluk Persia” yang baru, sebuah langkah untuk memperkuat kendali atas jalur air strategis Selat Hormuz. Sebelum konflik pecah, selat ini mengangkut pengiriman minyak dan gas alam cair setara dengan sekitar 20 persen konsumsi global. Namun, sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu, Iran secara efektif menutup selat tersebut sebagai balasan atas serangan AS dan Israel. Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak April, Iran masih membatasi lalu lintas di Hormuz, sementara AS disebut meningkatkan pengawasan di kawasan tersebut.
Gangguan pasokan dari Timur Tengah akibat perang telah memaksa berbagai negara untuk menarik persediaan komersial dan strategis mereka dengan cepat. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius tentang penipisan stok minyak global yang dapat memperburuk tekanan harga.
Di sisi lain, risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan April yang dirilis pada hari Rabu menambah beban sentimen. Dokumen tersebut menunjukkan bahwa mayoritas pejabat Federal Reserve (The Fed) memperingatkan kemungkinan perlunya menaikkan suku bunga jika inflasi terus berada di atas target 2 persen. Risalah itu menyoroti kekhawatiran yang semakin dalam di antara para pejabat The Fed terkait tekanan inflasi yang dipicu oleh ketidakpastian global. Pada rapat April, FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dana federal dalam kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.
Dari dalam negeri, investor cenderung menghindari risiko setelah pemerintah memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batu bara, dan ferro alloy. Kebijakan baru mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara, yang memicu kehati-hatian pelaku pasar. Ketidakpastian juga meningkat menjelang rilis data neraca transaksi berjalan kuartal pertama yang dijadwalkan pada Jumat. Angka ini dinanti pasar setelah defisit kuartal keempat yang didorong oleh kesenjangan harga minyak yang lebih lebar.
Sementara itu, keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate dinilai telah dipertimbangkan matang dan merupakan langkah pre-emptive yang terukur untuk merespons dinamika ketidakpastian global. Bank sentral berkepentingan menjaga nilai tukar dan stabilitas rupiah. Meskipun langkah ini akan menimbulkan beban tambahan pada biaya pinjaman, kebijakan ini diharapkan dapat melindungi rupiah dari pelemahan yang lebih dalam.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai instrumen teknis untuk mengendalikan permintaan dan arus keluar modal, tetapi juga menjadi upaya untuk menjaga kepercayaan pasar. Dengan menaikkan suku bunga acuan, Bank Indonesia ingin menegaskan bahwa posisi rupiah tetap dijaga, ekspektasi inflasi terkendali, dan otoritas moneter masih memiliki kendali atas situasi.
Pemerintah sendiri menyadari risiko yang mungkin timbul dari kebijakan ini. Meskipun kenaikan suku bunga acuan dapat menahan pelemahan rupiah, pada saat yang sama kebijakan ini juga berpotensi mempermahal biaya dana, menekan kredit, mengerem investasi, dan memperberat cicilan dunia usaha maupun rumah tangga. Dilema ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas moneter dan fiskal ke depan.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.660 hingga Rp17.710 per dolar AS.
Artikel Terkait
13,3 Juta SPT Tahunan 2025 Masuk, DJP Catat Kepatuhan Pajak Didominasi Karyawan
PGN Siap Serap Pasokan Gas dari Proyek Abadi LNG Blok Masela, Teken Kesepakatan dengan Inpex
Carsurin Tetap Bagi Dividen Rp962 Juta Meski Laba Bersih Anjlok 75 Persen
Charoen Pokphand Bagikan Dividen Rp2,95 Triliun, Setara Rp180 per Saham