Pernyataan itu seperti angin segar bagi pasar. Sebelumnya, rencana peluncuran B50 sempat tertunda di Januari lalu karena soal teknis dan pendanaan, sehingga program B40 yang tetap berjalan. Namun, situasi global yang memanas khususnya gangguan pasokan energi akibat ketegangan AS-Israel dengan Iran rupanya membuat wacana B50 kembali mengemuka dan dibahas serius.
Faktor eksternal juga turut bermain. Harga minyak sawit Malaysia, patokan penting bagi pasar, tercatat menguat untuk hari ketiga berturut-turut. Kontrak acuan CPO pengiriman Juni di bursa Malaysia naik 0,78 persen, didorong oleh kenaikan harga minyak kedelai Chicago dan minyak mentah, plus kinerja ekspor yang terlihat cukup solid.
Menurut David Ng, trader proprietary di Iceberg X Sdn Bhd, pergerakan CPO memang mengikuti tren penguatan komoditas minyak lainnya selama sesi Asia.
“Kinerja ekspor yang kuat juga mendorong sentimen pasar. Kami melihat harga bertahan di atas 4.600 ringgit dengan level resistensi di 4.750 ringgit,” jelasnya.
Jadi, gabungan antara optimisme kebijakan domestik dan dukungan fundamental harga global rupanya cukup ampuh mengerek minat investor. Sektor sawit, yang sempat lesu, kini kembali menunjukkan taringnya di bursa. Menarik untuk dilihat, apakah momentum ini bisa bertahan atau tidak dalam beberapa hari ke depan.
Artikel Terkait
Rupiah Melemah ke Rp17.002, Dihantui Ketegangan Iran dan Prospek Kenaikan Suku Bunga AS
IHSG Bangkit dari Jurang 7.000, Ditutup Melemah Tipis di 7.091
BREN Akhiri Program Buyback Saham Lebih Cepat, Kondisi Pasar Dinilai Stabil
BUMI Cetak Laba Bersih Rp 1,38 Triliun di Tengah Pasar Batubara Lesu