Pasar saham Indonesia hari Senin (30/3) diwarnai aksi kontras. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk, justru saham-saham di sektor energi tampil perkasa. Kenaikan mereka tak lepas dari sentimen global: konflik di Timur Tengah yang memanas kembali mendorong harga komoditas energi melambung.
Di papan pencatatan, saham batu bara jadi primadona. Adaro Group memimpin kenaikan, dengan AADI melesat 3,5% ke level Rp11.100. ADMR dan ADRO juga ikut menguat, masing-masing naik 3,05% dan 2,76%. Tak ketinggalan, emiten besar lain seperti ITMG bahkan melonjak 4,68%. HRUM, PTBA, dan ABMM pun catatkan kenaikan, meski lebih moderat.
Di sisi lain, saham migas dan penunjangnya juga tak mau kalah. AKRA jadi yang paling bersinar dengan kenaikan hampir 6%. CGAS bahkan lebih gila, melonjak 9,43%. PGAS, MEDC, dan ELSA juga ikut menguat, meski dengan persentase yang lebih beragam.
Semua ini terjadi di tengah tekanan yang cukup berat pada IHSG. Indeks acuan itu akhirnya ditutup melemah 0,84% ke level 7.038. Padahal di awal sesi, koreksinya sempat lebih dalam, mencapai 2,14%. Ini jadi hari ketiga berturut-turut IHSG berakhir di zona merah.
Lalu, apa yang mendorong saham energi tetap kuat? Jawabannya ada di pasar komoditas dunia. Harga minyak mentah Brent, misalnya, naik 2,4% ke USD115,33 per barel. Kenaikan bulanannya fantastis: mencapai 60%, yang bahkan melampaui lonjakan pasca invasi Irak ke Kuwait tahun 1990. Minyak mentah AS juga tak kalah, naik 3% dengan kenaikan bulanan 53%.
Artikel Terkait
Bank bjb Salurkan Bantuan Rp700 Miliar untuk Perbaikan 35.000 Rumah di Jabar
Fitch Naikkan Proyeksi Harga Tembaga dan Emas, Saham Tambang Diuntungkan
IHSG Tertekan, Saham Konglomerasi dan Perbankan Babak Belur
Pasar Saham Asia Terpukul Imbas Konflik Timur Tengah dan Ancaman Stagflasi