Pasar saham Asia babak belur di awal pekan ini. Kekhawatiran investor meluas seiring konflik di Timur Tengah yang makin panas, dan ancaman stagflasi global mulai menghantui. Semuanya berawal dari serangan rudal Houthi ke Israel akhir pekan lalu, yang membuat ketegangan kawasan meluas dan memicu aksi jual besar-besaran.
Jepang jadi yang paling terpukul. Indeks Nikkei terperosok tajam, anjlok sekitar 4,6 persen dan bahkan sempat kehilangan lebih dari 5 persen. Jatuhnya begitu dalam sampai-sampai menghapus semua keuntungan yang diraih sepanjang tahun ini. Topix juga ikut merosot 4,5 persen. Yang bikin was-was, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang untuk tenor 10 tahun menyentuh 2,39 persen level tertinggi sejak 1999. Angka itu jelas jadi cermin dari tekanan inflasi yang makin nyata.
Shingo Ide dari NLI Research Institute melihat pergeseran sentimen ini. Menurutnya, kekhawatiran pasar sekarang sudah naik tingkat.
"Pasar kemungkinan kini mewaspadai bukan hanya inflasi dan perlambatan ekonomi, tetapi bahkan resesi atau pertumbuhan negatif," ujarnya.
Tekanan serupa melanda Korea Selatan. Indeks KOSPI ambles lebih dari 4 persen, mendekati level terendah dalam hampir sebulan. Won-nya pun tetap lemah, bertahan di kisaran KRW 1.500 per dolar AS seiring derasnya arus keluar modal asing.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak jadi pemicu utama kepanikan. Brent melonjak sekitar 3 persen ke angka USD 115,98 per barel, sementara minyak AS menembus USD 102,52. Kenaikan ini langsung menekan ekonomi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi, memicu bayang-bayang inflasi sekaligus perlambatan pertumbuhan.
Bursa lain di kawasan pun tak berkutik. Shanghai Composite turun 0,61 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 2,07 persen. ASX Australia dan STI Singapura juga ikut terkoreksi, masing-masing 1,32 persen dan 0,29 persen.
Kekhawatiran itu ternyata menular ke pasar global. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq futures sama-sama melemah, begitu pula dengan futures saham Eropa yang ikut tertekan. Suasana benar-benar muram.
Ada peringatan keras dari Bruce Kasman, Kepala Ekonom Global JPMorgan. Dia memprediksi skenario yang lebih suram jika konflik sampai menutup akses pelayaran di Selat Hormuz untuk waktu yang lama.
"Jika Selat tetap tertutup selama satu bulan tambahan, harga minyak berpotensi naik menuju USD 150 per barel dan membatasi pasokan energi bagi sektor industri," kata Kasman.
Intinya, pasar sekarang sedang dicekam dua ketakutan sekaligus. Pertama, konflik yang berkepanjangan bakal terus mendongkrak harga komoditas energi. Kedua, kombinasi mematikan antara inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang mandek alias stagflasi benar-benar mengancam. Dan untuk pasar saham Asia yang masih rentan, ancaman itu terasa sangat nyata.
Artikel Terkait
10 Emiten dengan Konsentrasi Saham Tinggi Belum Lakukan Aksi Korporasi, BEI Tunggu Langkah Nyata
IHSG Anjlok 1,85 Persen ke 6.599, Seluruh Sektor Tertekan Aksi Jual Massif
IHSG Anjlok 1,85% ke 6.599, Terseret Aksi Jual Masif dan Pelemahan Rupiah
TGKA Bagikan Dividen Final Rp285 per Saham, Jadwal Pembayaran Awal Juni 2026