Bursa lain di kawasan pun tak berkutik. Shanghai Composite turun 0,61 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 2,07 persen. ASX Australia dan STI Singapura juga ikut terkoreksi, masing-masing 1,32 persen dan 0,29 persen.
Kekhawatiran itu ternyata menular ke pasar global. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq futures sama-sama melemah, begitu pula dengan futures saham Eropa yang ikut tertekan. Suasana benar-benar muram.
Ada peringatan keras dari Bruce Kasman, Kepala Ekonom Global JPMorgan. Dia memprediksi skenario yang lebih suram jika konflik sampai menutup akses pelayaran di Selat Hormuz untuk waktu yang lama.
"Jika Selat tetap tertutup selama satu bulan tambahan, harga minyak berpotensi naik menuju USD 150 per barel dan membatasi pasokan energi bagi sektor industri," kata Kasman.
Intinya, pasar sekarang sedang dicekam dua ketakutan sekaligus. Pertama, konflik yang berkepanjangan bakal terus mendongkrak harga komoditas energi. Kedua, kombinasi mematikan antara inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang mandek alias stagflasi benar-benar mengancam. Dan untuk pasar saham Asia yang masih rentan, ancaman itu terasa sangat nyata.
Artikel Terkait
IHSG Melemah, Saham Energi Melonjak Imbas Konflik Timur Tengah
Fitch Naikkan Proyeksi Harga Tembaga dan Emas, Saham Tambang Diuntungkan
IHSG Tertekan, Saham Konglomerasi dan Perbankan Babak Belur
IHSG Anjlok 1,55% di Awal Perdagangan Pasca-Lebaran, Semua Sektor Terkapar Merah