Pasar Saham Asia Terpukul Imbas Konflik Timur Tengah dan Ancaman Stagflasi

- Senin, 30 Maret 2026 | 10:20 WIB
Pasar Saham Asia Terpukul Imbas Konflik Timur Tengah dan Ancaman Stagflasi

Pasar saham Asia babak belur di awal pekan ini. Kekhawatiran investor meluas seiring konflik di Timur Tengah yang makin panas, dan ancaman stagflasi global mulai menghantui. Semuanya berawal dari serangan rudal Houthi ke Israel akhir pekan lalu, yang membuat ketegangan kawasan meluas dan memicu aksi jual besar-besaran.

Jepang jadi yang paling terpukul. Indeks Nikkei terperosok tajam, anjlok sekitar 4,6 persen dan bahkan sempat kehilangan lebih dari 5 persen. Jatuhnya begitu dalam sampai-sampai menghapus semua keuntungan yang diraih sepanjang tahun ini. Topix juga ikut merosot 4,5 persen. Yang bikin was-was, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang untuk tenor 10 tahun menyentuh 2,39 persen level tertinggi sejak 1999. Angka itu jelas jadi cermin dari tekanan inflasi yang makin nyata.

Shingo Ide dari NLI Research Institute melihat pergeseran sentimen ini. Menurutnya, kekhawatiran pasar sekarang sudah naik tingkat.

"Pasar kemungkinan kini mewaspadai bukan hanya inflasi dan perlambatan ekonomi, tetapi bahkan resesi atau pertumbuhan negatif," ujarnya.

Tekanan serupa melanda Korea Selatan. Indeks KOSPI ambles lebih dari 4 persen, mendekati level terendah dalam hampir sebulan. Won-nya pun tetap lemah, bertahan di kisaran KRW 1.500 per dolar AS seiring derasnya arus keluar modal asing.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak jadi pemicu utama kepanikan. Brent melonjak sekitar 3 persen ke angka USD 115,98 per barel, sementara minyak AS menembus USD 102,52. Kenaikan ini langsung menekan ekonomi negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor energi, memicu bayang-bayang inflasi sekaligus perlambatan pertumbuhan.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar