Kalau dirunut lebih jauh, laba sebelum pajak penghasilan juga ikut merosot 7,1 persen menjadi USD 283,3 juta. Setelah dipotong beban pajak penghasilan neto sebesar USD 7,5 juta, ya dapatlah laba bersih tahun berjalan itu tadi, USD 275,8 juta. Laba yang sepenuhnya diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Nah, dari neracanya, ada cerita yang sedikit berbeda. Total ekuitas perseroan justru menunjukkan tren positif, meningkat 10,1 persen menjadi USD 2,95 miliar per akhir Desember 2025. Pencapaian ini didukung oleh kemampuan perusahaan menekan total liabilitas atau kewajiban hingga 17,4 persen, menjadi USD 972 juta. Meski begitu, komposisi utang jangka pendeknya masih besar, yakni USD 494,5 juta.
Total asetnya sendiri tumbuh tipis 1,7 persen menjadi USD 3,92 miliar. Tapi, ada satu hal yang perlu dicermati: likuiditas. Kas dan setara kas perusahaan anjlok cukup dalam, turun 37,9 persen menjadi USD 113,7 juta. Padahal setahun sebelumnya masih di angka USD 183 juta. Penurunan kas yang signifikan ini pasti jadi perhatian serius manajemen untuk operasional ke depannya.
Secara keseluruhan, tahun 2025 jadi tahun yang menantang bagi TKIM. Mereka berhasil menjaga penjualan dan ekuitas, tapi dihantui oleh membesarnya beban operasional dan menipisnya kas. Tantangan ke depan adalah bagaimana menyeimbangkan efisiensi dengan menjaga kesehatan arus kas.
Artikel Terkait
Laba Bersih Matahari Department Store Anjlok 12,4% di Tahun Buku 2025
Laba Bersih Hermina (HEAL) Anjlok 20% Meski Pendapatan Naik
Bapanas Klaim Stok Pangan Nasional Kuat Hadapi Ancaman Godzilla El Nino 2026
Laba Bersih Hartadinata Abadi Melonjak 121% Jadi Rp979,6 Miliar pada 2025