Tahun 2025 ternyata jadi tahun yang gemilang bagi Hartadinata Abadi. Perusahaan emas yang tercatat di bursa dengan kode HRTA itu baru saja merilis laporan keuangan yang bikin mata terbelalak. Laba bersihnya melesat hingga Rp979,6 miliar! Angka itu naik lebih dari dua kali lipat, tepatnya 121 persen, dibandingkan realisasi tahun 2024 yang sebesar Rp442,7 miliar.
Laporan yang dirilis Jumat lalu (27/3/2026) itu menunjukkan, hampir seluruh laba tersebut, yakni Rp978,49 miliar, dinikmati oleh pemilik entitas induk. Sisanya, sekitar Rp1,11 miliar, merupakan bagian kepentingan non-pengendali.
Lalu, apa yang mendorong pertumbuhan fantastis ini? Jawabannya ada di angka penjualan. Sepanjang tahun lalu, pendapatan neto perusahaan meroket ke level Rp44,5 triliun. Sebuah kenaikan yang sangat tajam, 144 persen, dibandingkan tahun sebelumnya yang 'hanya' Rp18,23 triliun.
Namun begitu, beban pokok pendapatan juga ikut naik, bahkan lebih cepat. Beban itu membengkak 148,8 persen menjadi Rp42,63 triliun. Meski begitu, HRTA tetap berhasil mencetak laba kotor sebesar Rp1,92 triliun, meningkat dari Rp1,09 triliun di 2024.
Kinerja positif ini tentu saja berimbas pada laba per saham. Nilainya melonjak dari Rp96,02 per lembar saham menjadi Rp212,47. Peningkatan signifikan juga terlihat dari sisi arus kas. Aktivitas operasi perusahaan menghasilkan arus kas positif sebesar Rp1,14 triliun. Ini adalah pembalikan yang cukup dramatis, mengingat tahun sebelumnya mereka justru mencatat arus kas negatif Rp423,6 miliar.
Alhasil, posisi kas dan setara kas di akhir tahun 2025 pun membengkak. Tercatat Rp1,53 triliun, atau naik luar biasa sebesar 616 persen dari posisi akhir 2024 yang sebesar Rp213,55 miliar. Perusahaan jelas punya likuiditas yang jauh lebih sehat.
Dari sisi neraca, gambaran ekspansi perusahaan semakin jelas. Total aset HRTA membesar menjadi Rp12,6 triliun, naik 111 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh kenaikan persediaan, kas, serta piutang dan pinjaman yang mereka berikan.
Di sisi lain, liabilitas atau kewajiban perusahaan juga ikut membesar, tumbuh 160 persen menjadi Rp9,37 triliun. Lonjakan ini sejalan dengan strategi ekspansi pendanaan mereka melalui penerbitan obligasi dan pinjaman bank.
Meski utang bertambah, ekuitas pemilik tetap tumbuh dengan baik. Posisinya di akhir 2025 tercatat Rp3,23 triliun, naik 37 persen dari tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa akumulasi laba perusahaan tetap terjaga, bahkan setelah memperhitungkan pembagian dividen.
Secara keseluruhan, laporan ini menggambarkan sebuah tahun yang sangat solid bagi Hartadinata Abadi. Mereka tidak hanya menjual lebih banyak, tetapi juga berhasil mengelola pertumbuhan itu dengan cukup baik.
Artikel Terkait
Harga Emas Anjlok ke Titik Terendah Dua Bulan, Tertekan Konflik Iran-AS dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Reformasi Ekspor Komoditas Dinilai Perkuat Likuiditas Valas, Namun Perbankan Waspadai Risiko Eksekusi
Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi Ditopang Sektor Kesehatan dan Konsumen
BEI Hapus 30 Waran Terstruktur dari Perdagangan per 10 Juni 2026