Laba Bersih Matahari Department Store Anjlok 12,4% di Tahun Buku 2025

- Minggu, 29 Maret 2026 | 20:35 WIB
Laba Bersih Matahari Department Store Anjlok 12,4% di Tahun Buku 2025

Laba bersih PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) anjlok di Tahun Buku 2025. Perusahaan ritel ternama ini hanya membukukan Rp725,4 miliar yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Angka itu jelas lebih rendah ketimbang tahun sebelumnya, yang mampu mencapai Rp827,7 miliar.

Laporan tahunan yang dirilis ke BEI dan dikutip Selasa (24/3/2026) menunjukkan, penurunan laba ini tak lepas dari kinerja penjualan yang ikut melemah sepanjang tahun lalu. Ringkasnya, pendapatan mereka memang sedang tak sehat.

Penjualan barang dagangan terpantau turun ke Rp11,05 triliun. Padahal, di 2024 lalu, mereka berhasil meraup Rp12,30 triliun. Penurunan ini terjadi di semua lini. Segmen konsinyasi, misalnya, merosot dari Rp8,64 triliun menjadi Rp7,69 triliun. Sementara itu, penjualan ritel di gerai-gerai mereka juga ikut tergerus, dari Rp3,66 triliun menjadi Rp3,35 triliun.

Dampaknya langsung terasa pada profitabilitas. Laba kotor pun ikut terpangkas, hanya Rp3,81 triliun dibandingkan Rp4,26 triliun di periode yang sama. Memang, manajemen berusaha berhemat dengan menekan beban usaha dari Rp2,97 triliun menjadi Rp2,79 triliun. Sayangnya, langkah efisiensi itu belum cukup. Laba usaha tetap terperosok ke angka Rp1,12 triliun, turun dari posisi Rp1,27 triliun di 2024.

Di level bawah, tren negatif masih berlanjut. Laba sebelum pajak menyusut jadi Rp892,6 miliar, jauh dari capaian Rp1,01 triliun setahun sebelumnya. Imbasnya, laba per saham pun merosot dari Rp366 menjadi hanya Rp324 per saham.

Kalau lihat neracanya, total aset LPPF sebenarnya relatif stabil di angka Rp5,13 triliun. Namun, di balik angka yang tampak tenang itu, ada pergeseran yang perlu dicermati. Total ekuitas mereka menipis menjadi Rp272,9 miliar, sementara liabilitas justru membengkak menjadi Rp4,86 triliun.

Beberapa rasio keuangan pun ikut berubah. Margin laba kotor sedikit terkorosi menjadi 65,9%. Return on Assets (ROA) juga turun ke 14,1%. Tapi ada yang menarik: Return on Equity (ROE) justru melonjak tinggi ke 265,8%. Lonjakan ini lebih karena basis ekuitasnya yang menciut, bukan karena kinerja yang fantastis.

Dari kacamata operasional, adjusted EBITDA mereka tercatat Rp1,16 triliun turun dari Rp1,39 triliun. Rasio beban operasional terhadap penjualan kotor pun naik menjadi 26,1%. Angka ini mencerminkan tekanan biaya yang semakin berat, di saat pendapatan justru sedang menurun.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar