Wall Street Bersiap Hadapi Pekan Berat, Data Ketenagakerjaan Jadi Penentu Arah Pasar

- Sabtu, 28 Maret 2026 | 06:15 WIB
Wall Street Bersiap Hadapi Pekan Berat, Data Ketenagakerjaan Jadi Penentu Arah Pasar

Wall Street bersiap menghadapi ujian berat pekan depan. Sentimen pasar, yang sudah lesu, akan diuji oleh laporan ketenagakerjaan AS yang sangat dinanti. Tak cuma itu, mata investor juga masih tertuju ke Timur Tengah, di mana konflik telah memasuki bulan kedua tanpa tanda-tanda reda.

Dampak perang terhadap harga energi terus jadi momok. Pasokan minyak dunia terpangkas, mendorong harga minyak mentah AS melonjak lebih dari 60 persen sejak awal tahun. Angkanya kini mendekati level psikologis 100 dolar AS per barel. Akibatnya, harga bensin di dalam negeri AS sendiri meroket hingga 4 dolar per galon. Ini ancaman serius bagi daya beli konsumen, yang jadi penopang utama ekonomi Amerika.

Di sisi lain, kekhawatiran inflasi kembali menghantui. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) melesat ke level tertinggi sejak musim panas lalu. Kenaikan ini jadi tekanan baru bagi valuasi saham, yang sudah terengah-engah.

Buktinya? Jatuhnya pasar saham pada Kamis lalu memperpanjang derita indeks S&P 500 menjadi pekan kelima berturut-turut merosot. Sejak serangan AS-Israel ke Iran akhir Februari lalu, indeks acuan itu telah anjlok hampir 6 persen. Posisi Nasdaq bahkan lebih parah: indeks teknologi itu resmi masuk fase koreksi setelah terperosok lebih dari 10 persen dari puncaknya bulan Oktober.

Jim Baird, Chief Investment Officer di Plante Moran Financial Advisors, menggambarkan situasinya dengan jelas.

"Sepanjang pekan, berbagai sinyal yang saling bertentangan mengenai kemungkinan meredanya krisis membuat harga aset berfluktuasi tajam. Saham kemungkinan akan tetap bergerak mengikuti perkembangan berita utama dalam beberapa hari mendatang," ujarnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar