Hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata sepuluh hari, sirene peringatan kembali berbunyi. Kali ini di langit Iran. Israel melancarkan serangkaian serangan udara yang, menurut laporan, menyasar sejumlah fasilitas strategis di jantung negara itu.
Serangan itu terjadi di kota Yazd, wilayah tengah Iran. Sasaran yang disebut-sebut adalah sebuah pabrik pengolahan uranium dan beberapa kompleks industri baja. Angkatan Udara Israel, seperti dikutip Al Jazeera, menyatakan pabrik yang diserang terkait dengan ekstraksi bahan baku untuk pengayaan uranium. Badan Energi Atom Iran sendiri mengakui serangan tersebut, meski menegaskan tidak ada korban jiwa atau kebocoran radioaktif yang terjadi.
Namun begitu, daftar sasaran ternyata lebih panjang. Kompleks Reaktor Air Berat Khondab juga tak luput dari serangan. Begitu pula dua pabrik baja raksasa: fasilitas Khuzestan dan Mobarakeh di Isfahan. Serangan-serangan ini jelas bukan tindakan kecil.
Respon Iran datang cepat. Menteri Luar Negeri mereka, Abbas Araghachi, langsung bersuara lewat media sosial X.
"Israel telah menyerang dua pabrik baja terbesar Iran, pembangkit listrik, dan situs nuklir sipil di antara infrastruktur lainnya. Iran akan menuntut ganti rugi yang besar atas serangan Israel,"
tulisnya dengan nada keras.
Korban jiwa pun berjatuhan. Di Qom, serangan dilaporkan menewaskan sedikitnya 18 orang. Sementara wilayah sekitar Teheran, Kashan, dan Ahwaz juga merasakan dampaknya. Situasi semakin suram jika melihat angka korban sejak konflik memanas akhir Februari lalu: lebih dari 1.900 orang di Iran dikabarkan tewas akibat serangan gabungan AS dan Israel. Kerusakan tak hanya menimpa manusia. Pejabat setempat menyebut setidaknya 120 museum dan situs bersejarah hancur atau rusak.
Di sisi lain, Israel justru bersikap semakin ofensif. Menteri Pertahanannya, Israel Kats, dengan tegas menyatakan intensitas serangan akan terus ditingkatkan. Target pun akan diperluas. Dia balik menuduh Iran yang dengan sengaja mengarahkan rudal-rudalnya ke permukiman sipil Israel.
Peringatan dari Iran justru mengarah ke babak yang lebih mencemaskan. Komandan Dirgantara Korps Garda Revolusi, Seyed Majid Moosavi, mengeluarkan pernyataan yang sarat ancaman. Konflik, katanya, telah memasuki fase baru. Prinsip "mata dibalas mata" akan diterapkan. Dia bahkan mendesak semua pekerja perusahaan yang terkait AS dan Israel di seluruh Timur Tengah untuk segera meninggalkan posisi mereka. Sebuah peringatan yang membuat suasana terasa semakin panas dan tidak menentu.
Artikel Terkait
Kapolri Buka Peluang ASN Isi Jabatan Non-Operasional di Polri
DPR Tunggu Hasil Tim Perumus Apindo-Serikat Pekerja untuk RUU Ciptaker, Target Selesai Oktober
Prabowo Makan Siang Bersama Siswa dan Orang Tua Usai Tinjau Sekolah Rakyat di Tabanan
BOJ Sinyalkan Kenaikan Suku Bunga ke Level Tertinggi Sejak 1995 di Tengah Tekanan Inflasi