Tahun 2025 benar-benar jadi ujian berat bagi PT BUMA Internasional Grup Tbk. Perusahaan tambang ini harus menghadapi serangkaian masalah yang datang bertubi-tubi. Mulai dari gangguan operasional yang tak biasa, cuaca yang terus-terusan buruk, hingga proses ramp-down atau penyelesaian kontrak di sejumlah lokasi, baik di Indonesia maupun di Australia. Dampaknya langsung terasa.
Pendapatan mereka anjlok 16 persen, cuma mencapai USD 1,48 miliar. Penyebab utamanya? Turunnya volume produksi, meski harga jasa kontraktornya sendiri relatif masih bertahan. Lebih detail lagi, volume pengupasan tanah (overburden removal) merosot 19 persen ke angka 439 juta MBCM. Produksi batubaranya sendiri ikut turun 6 persen, menjadi 84 juta ton. Semua ini tak lepas dari gangguan di kuartal pertama tahun lalu, ditambah lagi dengan kendala cuaca dan kontribusi yang menurun dari beberapa site yang sedang dalam proses ramp-down.
Di sisi lain, kondisi itu juga memicu lonjakan biaya non-operasional. BUMA harus menyisihkan dana untuk piutang usaha dan mencatat penurunan nilai aset atau impairment di operasional Australia dan AS. Lumayan, kerugian ini sedikit terimbangi oleh keuntungan nilai wajar investasi di 29Metals yang mencapai USD 41 juta.
EBITDA pun ikut terpukul, turun ke level USD 175 juta dengan margin tipis 4 persen. Volume rendah, biaya pesangon membengkak, dan harga bahan bakar yang naik jadi biang keroknya. Kalau faktor pesangon itu dikeluarkan, sebenarnya EBITDA mereka bisa mencapai USD 207 juta dengan margin lebih sehat, 17 persen.
Pada akhirnya, BUMA mencatatkan rugi bersih yang dalam: USD 116 juta atau sekitar Rp 1,94 triliun sepanjang tahun lalu. Selain karena EBITDA yang turun, penyisihan piutang dari kontrak Australia yang berakhir dan penurunan nilai aset di Australia dan AS turut memperparah kondisi. Namun begitu, ada beberapa titik terang. Selain keuntungan dari 29Metals tadi, mereka juga dapat keuntungan selisih kurs USD 36 juta. Ada juga kabar baik dari putusan Mahkamah Agung Queensland yang memenangkan BUMA Australia, yang diharapkan bisa direalisasikan secara finansial di tahun 2026.
Soal arus kas, ada perbaikan. BUMA berhasil membukukan arus kas positif USD 8 juta, jauh lebih baik dibanding posisi akhir 2024 yang negatif USD 60 juta. Bahkan di kuartal IV-2025 saja, arus kas bebas mereka mencapai USD 55 juta. Untuk belanja modal, realisasinya sebesar USD 179 juta, relatif stabil dibanding tahun sebelumnya dengan alokasi yang dibagi antara pemeliharaan dan kebutuhan pertumbuhan.
Direktur BUMA, Iwan Fuad Salim, mengakui betapa sulitnya tahun tersebut bagi grup mereka.
"Kami merespons dengan cepat melalui pengetatan disiplin operasional, penguatan pengendalian biaya dan fundamental pemeliharaan, serta pengambilan langkah-langkah tegas guna menjaga likuiditas dan memperkuat neraca keuangan," ujarnya.
Menurutnya, langkah-langkah itulah yang akhirnya mendorong peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, dan kinerja arus kas sepanjang tahun, sekaligus jadi fondasi yang lebih kokoh untuk memasuki 2026.
Pernyataan itu disampaikannya melalui keterangan resmi pada Jumat, 27 Maret 2026.
Artikel Terkait
Metland Targetkan Marketing Sales Rp2 Triliun pada 2026
Hong Kong Salip Swiss sebagai Pusat Kekayaan Lintas Batas Terbesar Dunia
Metland Bagikan Dividen Rp74,2 Miliar dari Laba 2025, Setara Rp9,7 per Saham
PT Daaz Bara Lestari Nilai Kebijakan Ekspor Satu Pintu Tak Berdampak Material pada Kinerja