Wall Street ditutup dengan catatan merah pekan ini. Bukan sekadar lemah, pasar saham AS benar-benar terpuruk pada Jumat (27/3) waktu setempat. Ini sudah pekan kelima berturut-turut indeks mengalami penurunan rentetan terpanjang yang tercatat dalam hampir empat tahun terakhir. Suasana pasarnya muram.
Indeks S&P 500 anjlok 1,7 persen, mencatatkan performa terburuk sejak konflik AS-Iran memanas. Dow Jones Industrial Average pun tak kalah parah, terjun bebas 793 poin atau juga 1,7 persen. Dengan penurunan lebih dari 10 persen dari rekor tertinggi bulan lalu, Dow resmi masuk fase koreksi. Nasib serupa sudah lebih dulu dialami Nasdaq Composite, yang hari ini merosot 2,1 persen.
Padahal, sepanjang pekan pergerakan pasar sempat fluktuatif. Harapan akan berakhirnya perang muncul dan tenggelam silih berganti, membuat grafik naik-turun. Namun, semua itu pupus di akhir pekan.
Presiden AS Donald Trump sempat memberi angin segar. Dia menunda tenggat ancaman serangan ke fasilitas listrik Iran hingga 6 April, dengan syarat Iran membuka kembali jalur tanker minyak di Selat Hormuz. Sayangnya, sinyal itu tak bertahan lama. Harga minyak yang sempat meredah, langsung meroket lagi seiring kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan energi global.
Ketegangan diplomatik inilah yang disebut-sebut jadi biang kerok.
“Ketidaksinkronan diplomatik antara AS dan Iran pekan ini membuat investor cemas. Pada akhirnya, selera risiko tidak mampu bertahan di tengah kabut perang,” ujar Doug Beath, Global Equity Strategist di Wells Fargo Investment Institute.
Artikel Terkait
RAAM Rencanakan Rights Issue 1,36 Miliar Saham untuk Ekspansi Bioskop
PT Adhi Kartiko Pratama Siap Bayar Denda Hutan Rp158,9 Miliar
BUMA Catat Rugi Bersih USD 116 Juta di Tengah Gangguan Operasional dan Cuaca Buruk
Wall Street Bersiap Hadapi Pekan Berat, Data Ketenagakerjaan Jadi Penentu Arah Pasar