Di sisi lain, beban usaha perusahaan juga ikut membesar, naik 110 persen jadi Rp821 miliar. Peningkatan ini terutama didorong oleh dua hal: gaji dan tunjangan karyawan yang membengkak 30 persen ke angka Rp296 miliar, serta beban pemasaran yang melonjak 113 persen menjadi Rp234 miliar.
Dari aktivitas non-operasional, situasinya cukup berimbang. Trimegah mencatat pendapatan lain-lain Rp21 miliar, sementara bebannya Rp6,7 miliar. Namun, beban keuangan mereka ternyata membesar menjadi Rp180 miliar.
Setelah semua hitung-hitungan, termasuk potongan pajak, laba bersih Trimegah akhirnya terkumpul di angka Rp593 miliar. Sebuah lompatan yang signifikan dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp260 miliar.
Layanan Trimegah sebenarnya cukup komprehensif. Selain komisi dari ekuitas dan obligasi, mereka punya lini investment banking yang meliputi capital market dan corporate finance advisory. Di bidang capital market, mereka menangani IPO, rights issue, penerbitan obligasi, dan lain-lain. Sementara untuk advisory, layanannya mencakup M&A, restrukturisasi, hingga menjadi arranger.
Belum cukup sampai di situ. Trimegah juga punya anak usaha di bidang pengelolaan aset, PT Trimegah Asset Management. Per Januari 2026, dana kelolaan anak perusahaan ini sudah mencapai Rp60,6 triliun angka yang tidak main-main dan menunjukkan betapa kuatnya posisi mereka di pasar.
Artikel Terkait
BREN Pacu Kapasitas Panas Bumi, Targetkan Lampaui 1 GW pada 2026
CP Prima Catat Laba Bersih Rp424 Miliar, Naik 32% pada 2025
Laba Bersih INKP dan TKIM Berjalan Berbeda Meski Penjualan Sama-Sama Turun Tipis
Kementerian Pertanian Siapkan Rp9,5 Triliun untuk Hilirisasi 7 Komoditas Andalan