Di sisi lain, arus perdagangan global juga terhambat. Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui seperlima kapal tanker minyak dan gas dunia, praktis ditutup selama seminggu. Bayangkan dampaknya.
Lalu, bagaimana reaksi pasar? Cukup ekstrem. Harga minyak mentah Brent, patokan internasional, sempat melesat hingga USD119,50 per barel di perdagangan awal minggu di kawasan Asia Pasifik. Ini jadi kali pertama harga tembus ambang psikologis USD100 sejak invasi Rusia ke Ukraina dulu. Sentimen panik jelas mendorongnya.
Namun begitu, kenaikan gila-gilaan itu nggak bertahan lama. Kabar bahwa para menteri keuangan G7 akan membahas pelepasan cadangan minyak bersama-sama berhasil meredakan ketegangan. Pada akhir hari yang sama, harga Brent merosot tajam ke posisi USD85 per barel. Patokan WTI untuk minyak AS juga mengalami nasib serupa, turun ke USD86 per barel setelah sebelumnya nyaris menyentuh USD103.
Jadi, meski ancaman USD200 per barel terdengar menyeramkan, pasar sepertinya masih punya napas. Volatilitas tinggi masih akan terus terjadi, tapi langkah-langkah politik dan cadangan strategis masih mampu jadi penahan guncangan. Untuk sementara.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp8.000, Sentuh Rp3,047 Juta per Gram
Pasar Saham Asia Bangkit, Minyak Anjlok Usai Komentar Trump Soal Perang Timur Tengah
Rupiah Tertekan Global, Pelemahan Masih Lebih Moderat Dibanding Mata Uang Asia Lain
Menteri Keuangan Tegaskan Harga BBM Subsidi Belum Akan Dinaikkan