“Pemerintah juga mempertimbangkan untuk melepas sebagian cadangan strategis guna menstabilkan pasokan,” tambahnya, seperti dilaporkan Kyodo News.
Di sisi lain, respons dari Gedung Putih justru terdengar lebih santai. Presiden AS Donald Trump seolah mengecilkan dampak lonjakan harga ini. Ia menyebutnya sebagai "biaya yang perlu dibayar" untuk menetralisir ancaman nuklir Iran.
Namun begitu, perkembangan politik di Teheran mungkin tak akan disukainya. Reuters melaporkan, Iran baru saja menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei. Penunjukan ini mengisyaratkan kelompok garis keras masih berkuasa, dan Trump sebelumnya telah menyebut sang putra sebagai sosok yang “tidak dapat diterima”.
Dengan konflik yang belum ada ujungnya dan lalu lintas minyak yang tersendat, para investor sepertinya harus bersiap. Masa-masa dengan biaya energi tinggi mungkin akan berlangsung cukup lama.
“Ekonomi global masih sangat bergantung pada aliran terkonsentrasi minyak dan gas alam dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz,” ujar Bruce Kasman, Kepala Ekonom JPMorgan.
Pernyataannya seperti mengingatkan kita semua: ketergantungan itu kini berbalik menghantui. Dan pasar saham menjadi yang pertama merasakan sakitnya.
Artikel Terkait
Matahari Department Store Gelar RUPS Ganda di Tengah Penurunan Laba 2025
PGN Alokasikan Rp6 Triliun untuk Perkuat Infrastruktur Gas pada 2026
Konflik Timur Tengah Picu Anjloknya Wall Street dan Lonjakan Harga Minyak
Lippo Cikarang Hibahkan Lahan 31,3 Hektare di Meikarta untuk Rumah Subsidi