Serangan AS-Israel ke Iran Picu Pelemahan Pasar Saham Asia dan Lonjakan Harga Energi

- Selasa, 03 Maret 2026 | 09:20 WIB
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Pelemahan Pasar Saham Asia dan Lonjakan Harga Energi

Namun begitu, ketegangan di lapangan justru makin memanas. Seorang pejabat Garda Revolusi Iran dengan tegas menyatakan Selat Hormuz ditutup untuk lalu lintas laut. Ancaman itu jelas: kapal apa pun yang mencoba melintas akan ditembaki. Pernyataan itu langsung memicu gejolak di pasar komoditas.

Harga minyak dan gas melonjak drastis kemarin. Kontrak berjangka Brent sempat melesat 13 persen ke level USD82,37 per barel posisi tertinggi sejak awal 2025 sebelum akhirnya ditutup naik 7,1 persen. Pasar gas alam bahkan lebih liar, dengan harga acuan Eropa dan LNG Asia melambung sekitar 40 persen.

Lonjakan harga energi ini, tentu saja, jadi mimpi buruk bagi Federal Reserve. Upaya The Fed untuk menjaga inflasi tetap terkendali kini makin rumit. Apalagi data manufaktur ISM untuk Februari yang baru dirilis menunjukkan indikator harga di tingkat pabrik melonjak ke level tertinggi dalam hampir tiga setengah tahun. Ini sinyal risiko inflasi yang sudah mengintai, bahkan sebelum serangan ke Iran mendorong harga minyak meroket.

Menurut alat FedWatch CME Group, pasar kini hampir sepakat dengan probabilitas tersirat 97,5 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan pertengahan Maret nanti. Peluang suku bunga tetap bertahan hingga Juni juga meningkat, kini sedikit di atas peluang imbang.

Dalam kondisi penuh ketidakpastian seperti ini, dolar AS kembali jadi primadona. Indeks dolar bertahan di dekat level tertinggi enam pekan, menguat menjadi 98,494, karena investor berburu aset safe haven. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun justru turun tipis, 1,9 basis poin, ke level 4,0288 persen.

Semua mata kini tertuju pada perkembangan di Timur Tengah dan langkah The Fed selanjutnya. Pasar menunggu, sambil menahan napas.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar