PENISTAAN RAKYAT KECIL
Bayangkan saja. Anda seorang pedagang kecil, berusaha menghidupi keluarga dengan jualan makanan. Tiba-tiba, dagangan Anda diremas-remas, dilempar, bahkan dihancurkan sampai meleleh. Itu baru awal.
Kemudian, Anda diinterogasi dengan kasar. Dipermalukan di depan umum. Semua direkam dan videonya diviralkan. Belum cukup, fisik Anda pun jadi sasaran: ditonjok, disabet selang air, ditendang. Kaki disuruh diangkat-angkat sambil terus disabet. Sungguh, perlakuan yang bikin sakit hati.
Trauma yang ditinggalkan begitu dalam. Sampai-sampai, korban takut untuk berjualan lagi. Rasanya, kata mereka, diperlakukan "kayak anjing".
Dan ada satu kalimat dari oknum aparat yang sulit dilupakan, begitu kejam dan menusuk:
"Makan ni makan habisin kamu telen. Yang modar biar kamu, jangan anak-anak kecil kasihan itu, telan!"
Sayangnya, ini bukan cerita baru. Kasus ketidakadilan dan penyalahgunaan wewenang terhadap warga kecil pedagang kaki lima, tukang ojek, dan sejenisnya seolah jadi rekaman yang diputar berulang. Yang bikin geram, konsekuensi hukumnya seringkali tidak tegas. Bahkan terasa pilih kasih.
Lihat saja polanya. Cukup dengan permintaan maaf, segalanya beres. Sementara di sisi lain, aktivis yang vokal mengkritik kebijakan bisa berakhir di balik jeruji. Kontras yang mencolok, bukan?
Lalu, kita sebagai rakyat biasa bisa apa? Rasanya, paling-paling cuma bisa kesel dalam hati. Marah yang dipendam. Atau curhat di media sosial, itupun dengan kata-kata yang harus disaring berkali-kali. Takut. Takut kena UU ITE, takut dibilang provokasi, atau dituding menghina agama seperti kasus-kasus lain yang kita tahu.
Memang, ini terlihat seperti "masalah kecil". Tapi jangan salah. Jika dibiarkan terus terjadi, efeknya bisa seperti bola salju. Kepercayaan publik pada institusi bisa terkikis pelan-pelan. Sejarah mencatat, gejolak besar seperti Arab Spring di Timur Tengah justru dipicu oleh insiden yang mirip: seorang pedagang sayur, Mohamed Bouazizi, yang gerobaknya disita polisi hingga memilih membakar diri.
Maka, pembinaan aparat di lapangan itu krusial banget. Edukasi prosedur, pengendalian emosi, verifikasi fakta sebelum bertindak semua itu penting. Tapi yang paling utama adalah penegakan disiplin internal yang konsisten dan berkeadilan. Tanpa itu, omongan mana yang akan didengar?
Kita cuma bisa berharap Bapak Suderajat, korban dalam kisah ini, bisa perlahan pulih dari traumanya. Semoga usahanya bangkit kembali. Kasus ini harus jadi pengingat bagi semua pihak, terutama yang menjalankan tugas di lapangan, untuk lebih manusiawi. Lebih berempati.
Terlebih, kita sama-sama tahu, bapak-bapak aparat itu beragama, kan?
(Ruly Achdiat Santabrata)
Artikel Terkait
Kementan Akselerasi Tanam Serentak 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi Antisipasi Kekeringan
Ekonom: Fungsi APBN Bergeser, Danantara Kini Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi
DPR Soroti Kelemahan Sistem di Balik Kecelakaan Kereta Bekasi, Dorong Evaluasi Keselamatan Total
Trump Kecam Iran dengan Sindiran Pedas dan Gambar AI, Negosiasi Nuklir Makin Buntu