Eskalasi ini langsung berimbas pada harga minyak, yang memang sudah naik dalam beberapa pekan terakhir. Prospek harganya sekarang jadi sangat bergantung pada dua hal: langkah-langkah yang diambil negara produsen minyak, dan apakah gangguan pada pelayaran tanker di Timur Tengah akan berlangsung lama. Dampaknya bisa luas sekali, bukan cuma pada inflasi global, tapi juga pada aset-aset yang selama ini dianggap aman seperti obligasi.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia?
Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) bersiap merilis segudang data penting mulai dari ekspor-impor hingga inflasi. Inflasi Januari lalu sempat bikin heboh, melonjak ke level tertinggi dalam 37 bulan terakhir, tepatnya 3,55 persen (year-on-year). Angka itu sedikit menembus batas atas target Bank Indonesia.
Tapi tenang, kenaikan tajam ini lebih disebabkan oleh "low base effect". Jadi, lonjakan hanya terasa dalam perhitungan tahunan. Secara bulanan, kita malah mengalami deflasi 0,15 persen. Tren deflasi ini sebenarnya lanjutan dari tahun lalu, didorong oleh normalisasi harga sejumlah bahan pangan dan biaya transportasi.
Ada kabar baik juga dari sektor industri. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 tercatat di angka 54,02. Memang turun tipis 0,10 poin dari Januari, tapi kalau dibandingkan Februari tahun lalu, justru naik 0,87 poin. Posisinya sekarang adalah yang tertinggi kedua sejak IKI pertama kali diluncurkan.
Jadi, pekan depan, investor harus siap menyimak dua narasi sekaligus: angka-angka statistik dari seluruh penjuru dunia, dan perkembangan politik yang panas di Timur Tengah. Kombinasi yang pasti bakal seru.
Artikel Terkait
Krisis Timur Tengah Picu Gejolak Mata Uang Global, Franc Swiss Menguat
Harga Minyak Melonjak 7% Usai Ketegangan Iran-Israel Ancam Selat Hormuz
JSI Sinergi Mas Gelar Tender Wajib Saham LAPD Rp84,2 Miliar
Analis Proyeksi IHSG Berpeluju ke Level 8.650, Soroti Saham INDY hingga UNVR