Sentimen pasar global kembali diguncang. Pemicunya? Serangan gabungan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran yang memicu eskalasi besar di Timur Tengah. Konflik ini, yang disebut-sebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, langsung menyeret kawasan ke dalam ketegangan baru.
Iran tak tinggal diam. Mereka membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel. Sementara itu, negara-negara produsen minyak di Teluk Arab dilaporkan siaga penuh. Israel sendiri menetapkan status darurat, dan penutupan wilayah udara oleh sejumlah negara semakin memperbesar kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.
Nah, di tengah situasi mencekam ini, riset dari NH Korindo Sekuritas Indonesia dan BRI Danareksa Sekuritas justru melihat adanya katalis positif di baliknya. Meski mengakui risiko bagi pasar saham secara umum, kedua analis ini kompak menilai ketegangan geopolitik bisa menjadi angin segar bagi emas dan saham-saham sektor energi.
Menurut Ezaridho Ibnutama, Head of Research NH Korindo, kehadiran militer AS di sekitar Iran sebenarnya sudah diperkuat sejak awal tahun. Bahkan Presiden AS Donald Trump disebut memberi sinyal soal kemungkinan perubahan rezim di Teheran. Konflik yang terjadi sekarang, kata mereka, membenarkan peningkatan premi risiko untuk aset-aset safe haven seperti emas.
Selain itu, ada satu titik krusial yang jadi perhatian: Selat Hormuz.
Sebagai jalur vital distribusi minyak dunia, gangguan di sana bisa memicu lonjakan biaya logistik yang drastis. NH Korindo memperkirakan tarif angkut kapal tanker raksasa (VLCC) akan terus meroket seiring tingginya risiko pengiriman. Kondisi ini, tak pelak, berpotensi menjadi katalis bagi emiten tanker minyak seperti BULL, SOCI, HUMI, dan GTSI.
Di sisi lain, laporan Weekly Stocks dari BRI Danareksa Sekuritas menyoroti sentimen risk-off yang mendorong pelarian dana. Harga minyak WTI sudah merangkak naik, mendekati level tertinggi tujuh bulan. Yang lebih panas lagi, minyak Brent disebut melonjak sekitar 10 persen dalam perdagangan di luar bursa.
Beberapa analis bahkan punya prediksi yang lebih ekstrem: harga berpotensi menembus USD100 per barel jika gangguan pasokan ini berlarut-larut.
Artikel Terkait
Harga Minyak Melonjak 7% Usai Ketegangan Iran-Israel Ancam Selat Hormuz
JSI Sinergi Mas Gelar Tender Wajib Saham LAPD Rp84,2 Miliar
Analis Proyeksi IHSG Berpeluju ke Level 8.650, Soroti Saham INDY hingga UNVR
Bursa Abu Dhabi dan Dubai Ditutup Dua Hari Imbas Ketegangan Militer di Teluk