Segmen agribisnis juga terdongkrak oleh kenaikan harga jual CPO sebesar 11%. Begitu pula dengan infrastruktur dan logistik, yang diuntungkan oleh kenaikan pendapatan tol harian sebesar 8%.
Kinerja solid dari segmen-segmen "pendukung" ini punya dampak signifikan. Kontribusi mereka terhadap laba bersih konsolidasian Astra naik menjadi sekitar 10%, dari yang sebelumnya hanya 7% di tahun 2024. Diversifikasi portofolio bisnis rupanya benar-benar menjadi kunci ketahanan perusahaan.
Lalu, bagaimana dengan imbal hasil untuk investor? Manajemen mengusulkan dividen final sebesar Rp292 per saham. Dengan harga per 27 Februari 2026, ini mengindikasikan "dividend yield" sekitar 4,4%.
Sebelumnya, perusahaan sudah membagikan dividen interim untuk tahun buku 2025 sebesar Rp98 per saham pada Oktober lalu. Dengan profil kinerja yang stabil seperti ini, Stockbit menilai ASII masih punya daya tarik sebagai "dividend play".
Ke depan, pergerakan saham ASII diperkirakan akan lebih banyak dipengaruhi oleh aksi korporasi dan perkembangan izin tambang emas Martabe. Ada beberapa hal yang patut dicatat.
Pada Februari 2026, Astra telah menyelesaikan akuisisi 100% saham PT Arafura Surya Alam, pemilik tambang emas Doup di Sulawesi Utara.
Perseroan juga baru saja merampungkan program "buyback" saham tahap kedua senilai Rp685 miliar pada 25 Februari 2026. Rencananya, program pembelian kembali saham ini akan dilanjutkan lagi, dengan rincian yang akan diumumkan kemudian.
Jadi, meski ada tekanan dari satu sisi, ketahanan Astra tetap terlihat berkat portofolio bisnisnya yang luas. Semuanya kini tergantung pada eksekusi strategi ke depan.
Artikel Terkait
Program Pondasi Perbaiki Ratusan Rumah Warga di Kalimantan Tengah
Laba Bersih ITMG Anjlok 49% di Tengah Pelemahan Harga Batu Bara
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 3,085 Juta per Gram Awal Maret
BGN Klarifikasi Insentif Rp6 Juta per Hari untuk Dapur MBG: Skema Efisien, Risiko Ditanggung Mitra