"Namun begitu," katanya, "ketidakpastian global saat ini masih terbilang sangat besar."
Dan dalam kondisi seperti itulah emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, kerap dijadikan pelindung nilai. Ia seperti tempat berlindung yang nyaman ketika situasi geopolitik dan ekonomi terasa goyah.
Grant punya pandangan sendiri soal level harga. Menurutnya, pasar masih punya peluang untuk melanjutkan kenaikan menuju USD 5.340,72, bahkan berpotensi menyentuh USD 5.400. Tapi ya itu, ia juga mengingatkan bahwa koreksi jangka pendek tetap mungkin terjadi.
Di sisi lain, ada juga faktor lain yang mengganggu ketenangan pasar. Perwakilan Dagang AS, Jamieson Greer, menyebutkan bahwa tarif untuk beberapa negara akan dinaikkan menjadi 15 persen. Angka ini lebih tinggi dari rencana tarif baru sebelumnya yang sebesar 10 persen. Greer tidak merinci negara mana saja yang akan kena.
Sementara dari data domestik AS, klaim tunjangan pengangguran naik tipis pekan lalu. Tingkat pengangguran bulan Februari terlihat stabil, menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih cukup terjaga. Di tengah semua ini, pasar tetap berharap The Fed akan memangkas suku bunga dua kali dalam tahun berjalan.
Jadi, emas memang menguat tipis. Tapi perjalanannya masih panjang, ditentukan oleh diplomasi di Jenewa, kebijakan dagang AS, dan tentu saja, ekspektasi terhadap bank sentral.
Artikel Terkait
RGAS Rencanakan Diversifikasi ke Bisnis Material Konstruksi pada 2026
Prabowo Ucapkan Terima Kasih kepada Putin atas Dukungan Masuknya Indonesia ke BRICS
YULE Bagikan Dividen Rp15,8 Miliar, Cair 13 Mei 2026
Transaksi SPPA BEI Melonjak 461% Didorong Fitur Repo