Harga emas bergerak naik, meski tipis, pada perdagangan Kamis kemarin. Kenaikan ini terjadi di tengah suasana hati investor yang cenderung menunggu. Mereka memilih bersikap hati-hati, sambil menanti kelanjutan dari perundingan nuklir AS-Iran di Jenewa yang memasuki putaran ketiga.
Nah, semua mata tertuju ke sana. Pelaku pasar sepertinya sedang mencari sinyal, apakah negosiasi alot antara Washington dan Teheran ini bakal meredakan ketegangan geopolitik yang selama ini jadi bahan bakar kenaikan harga logam mulia.
Secara teknis, emas spot tercatat menguat 0,40 persen ke level USD 5.184,32 per troy ons. Razan Hilal, seorang analis di FOREX.com, melihat emas dan perak sedang berjuang untuk menembus level psikologis yang cukup penting: USD 5.200 untuk emas dan USD 90 untuk perak.
Tapi jangan terlalu semangat dulu. Sepanjang pekan ini, setiap kenaikan selalu gagal bertahan. Menurut Hilal, risiko koreksi justru bisa membesar kalau saja tercapai kesepakatan geopolitik, meski itu sifatnya jangka pendek.
Lalu, bagaimana prospek perundingannya? Seorang pejabat senior Iran memberi pernyataan kepada Reuters.
Ia bilang, AS dan Iran sebenarnya bisa mencapai sebuah kerangka kesepakatan. Syaratnya, Washington harus mau memisahkan isu nuklir dengan isu-isu lain di luar itu. "Masih ada sejumlah perbedaan yang perlu dipersempit," ujarnya, merujuk pada putaran ketiga di Jenewa.
Suara lain datang dari Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals. Ia mengakui bahwa banyak pihak memang menaruh perhatian besar pada hasil perundingan tersebut.
Artikel Terkait
RGAS Rencanakan Diversifikasi ke Bisnis Material Konstruksi pada 2026
Prabowo Ucapkan Terima Kasih kepada Putin atas Dukungan Masuknya Indonesia ke BRICS
YULE Bagikan Dividen Rp15,8 Miliar, Cair 13 Mei 2026
Transaksi SPPA BEI Melonjak 461% Didorong Fitur Repo