Ia menegaskan, pihaknya tak akan gegabah memotong suku bunga sebelum ada bukti jelas bahwa inflasi benar-benar menuju target 2 persen secara berkelanjutan.
Dari dalam negeri, ada respons yang cukup cepat dari pemerintah Indonesia menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian kebijakan tarif era Trump. Presiden Prabowo Subianto langsung meminta jajarannya untuk mengkaji ulang segala potensi risiko pasca-keputusan tersebut. Fokusnya, tentu saja, pada implementasi perjanjian dagang antara Indonesia dan AS.
Meski begitu, pemerintah memastikan satu hal: perjanjian dagang bilateral itu tetap akan berjalan sesuai mekanisme yang sudah disepakati. Mereka menilai, kebijakan tarif 10 persen yang berlaku sementara selama 150 hari ini relatif lebih baik ketimbang skenario-skenario buruk yang sempat menghantui. Nantinya, akan ada perbedaan perlakuan bagi negara yang sudah menandatangani perjanjian dan yang belum.
Ke depan, diplomasi dan negosiasi tentu akan terus digenjot. Pemerintah berjanji akan melakukannya secara adaptif, dengan tetap menempatkan kepentingan nasional di garis terdepan. Yang penting, implementasi perjanjian perdagangan harus memberi manfaat nyata bagi stabilitas ekonomi dan daya saing kita di panggung global.
Lantas, bagaimana prospek rupiah ke depan? Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan mata uang kita akan tetap fluktuatif. Untuk perdagangan selanjutnya, ia memperkirakan rupiah berpotensi ditutup melemah, bergerak dalam rentang Rp16.750 hingga Rp16.780 per dolar AS.
Jadi, meski hari ini ditutup menguat, perjalanan rupiah masih panjang dan penuh tantangan.
Artikel Terkait
Pembangunan Pabrik Baru SCNP di Bogor Capai 70 Persen
IHSG Anjlok 1,44%, Saham MSKY dan JAYA Melonjak di Atas 34%
Saham Jantra Grupo (KAQI) Melonjak 21,9%, Jadi Top Gainer Bursa
Dirut BRI Sinyalkan Dividen 2025 Lebih Besar Didukung CAR yang Kuat