Rupiah Menguat ke Rp16.759 Didorong Harap Perundingan AS-Iran

- Kamis, 26 Februari 2026 | 16:35 WIB
Rupiah Menguat ke Rp16.759 Didorong Harap Perundingan AS-Iran

Rupiah menutup perdagangan Kamis (26/2) dengan catatan hijau. Mata uang kita menguat 41 poin, atau sekitar 0,24 persen, ke level Rp16.759 per dolar AS. Sebuah kenaikan yang cukup signifikan di tengah dinamika pasar yang bergejolak.

Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, ada angin segar dari luar negeri yang mendorong penguatan ini. Pasar global tampaknya sedang mengamati dengan penuh harap perkembangan diplomasi antara AS dan Iran. Kedua negara bersiap untuk duduk bersama di Jenewa guna membahas kembali program nuklir Teheran.

"Utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan bertemu dengan para pejabat Iran di Jenewa pada Kamis sore, saat Washington berupaya mencapai kesepakatan mengenai program nuklir dan rudal balistik Teheran," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi memberi sinyal bahwa jalan damai masih terbuka. Tentu saja, dengan syarat kedua belah pihak mau berkomitmen untuk dialog yang konstruktif. Namun begitu, Presiden Donald Trump juga tak kalah vokal. Ia mengingatkan bahwa "hal-hal buruk" bisa saja terjadi jika perundingan ini tak membuahkan kemajuan yang berarti.

Faktor eksternal lain yang jadi perhatian adalah kebijakan tarif baru AS. Putusan Mahkamah Agung mereka baru-baru ini mengubah kerangka hukum seputar langkah-langkah perdagangan. Nah, pengenaan bea masuk global hingga 15 persen ini jelas menambah ketidakpastian. Prospek perdagangan internasional pun jadi makin sulit ditebak.

Belum lagi soal suku bunga. Pasar kini mulai mengurangi ekspektasi akan adanya pemotongan suku bunga oleh The Fed dalam waktu dekat. Para petinggi bank sentral AS itu terus menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap tekanan inflasi yang belum juga mereda.

Presiden Fed Chicago, Austan Goolsbee, pada hari Selasa lalu mengungkapkan kehati-hatiannya.

Editor: Dewi Ramadhani


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar