BLUE Konfirmasi Akuisisi 80% Saham oleh Perusahaan Tambang Hong Kong

- Senin, 23 Februari 2026 | 22:15 WIB
BLUE Konfirmasi Akuisisi 80% Saham oleh Perusahaan Tambang Hong Kong

PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE) akhirnya mengonfirmasi kabar yang sudah beredar. Perusahaan tinta itu menyatakan proses penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (CSPA) dengan Dragonmine Mining Limited dari Hong Kong telah rampung. Ini bukan isapan jempol belaka.

Lewat keterbukaan informasi yang dirilis Kamis lalu, BLUE membeberkan rencana Dragonmine membeli 80 persen sahamnya, atau setara 334,4 juta lembar saham. Dengan kata lain, perusahaan asal Hong Kong itu bakal menjadi pengendali baru.

“Memang ada potensi bagi BLUE untuk mengubah haluan model bisnisnya pasca perubahan pengendali,” kata Ezaridho Ibnutama, Head of Research NH Korindo Sekuritas Indonesia, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, langkah ini berpeluang memperbaiki kinerja perusahaan yang sempat lesu. Skema backdoor listing pun terbuka lebar, memungkinkan perusahaan dengan kualitas lebih baik masuk ke bursa tanpa melalui proses IPO yang berbelit.

Di sisi lain, BEI juga punya aturan baru yang memperbolehkan perusahaan ganti kode saham. Regulasi ini, ditambah kewajiban free float yang lebih tinggi, dikhawatirkan justru memicu kemacetan antrean IPO. Nah, di sinilah peluang backdoor listing makin menarik. Caranya? Ambil alih perusahaan yang sudah listing, lalu ubah core business-nya sesuai sektor usaha si pengendali baru.

Lantas, siapa sebenarnya Dragonmine ini? Perusahaan private asal Hong Kong itu dimiliki oleh Huayou Hongkong Limited. Meski BLUE belum memberi klarifikasi detail, penelusuran menunjukkan Huayou Hongkong adalah anak usaha Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. Fokusnya sebagai unit investasi luar negeri di sektor pertambangan dan mineral.

Bisnis utama Huayou mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion. Dan Indonesia, dengan nikelnya yang melimpah, adalah salah satu pilar strategis mereka. Ekspansi mereka di sini cukup agresif, lewat Proyek Titan yang melibatkan kerja sama dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).

Melihat track record ini, wajar jika pasar memprediksi Dragonmine akan menyalurkan aset-aset nikelnya ke dalam tubuh BLUE. Hanya soal waktu saja. Apalagi, ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya, CNGR Advanced Material Co. juga melakukan hal serupa dengan mengambil alih PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) dan mengubahnya menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk.

“Mereka menggunakan perusahaan listing agar dapat menarik modal dari investor lokal dan institusi melalui Rights Issue untuk mendanai proyek hilirisasi nikel di Indonesia,” jelas Ezaridho.

Bagi raksasa seperti Huayou dan CNGR, mengakuisisi emiten kecil seperti BLUE dan PACK jelas lebih cepat ketimbang IPO dari nol. Selain itu, keberadaan entitas publik di BEI bisa meningkatkan transparansi dan memperkuat profil ESG di mata investor global.

Pergerakan saham BLUE sendiri cukup dramatis. Year to date naik 117 persen, dan dalam setahun melonjak hampir 1.900 persen. Meski sempat terkoreksi saat pengumuman CSPA di tenggah pasar yang volatile, sentimen positif tetap kuat.

Aksi Dragonmine di BLUE ini bukan sekadar transaksi korporat biasa. Ini adalah sinyal. Indonesia kini tak lagi dipandang hanya sebagai penyedia bahan mentah, tapi mulai menjadi pusat finansial bagi para raksasa energi hijau dunia.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar