Bisnis utama Huayou mencakup seluruh rantai industri material baterai lithium-ion. Dan Indonesia, dengan nikelnya yang melimpah, adalah salah satu pilar strategis mereka. Ekspansi mereka di sini cukup agresif, lewat Proyek Titan yang melibatkan kerja sama dengan Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC).
Melihat track record ini, wajar jika pasar memprediksi Dragonmine akan menyalurkan aset-aset nikelnya ke dalam tubuh BLUE. Hanya soal waktu saja. Apalagi, ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya, CNGR Advanced Material Co. juga melakukan hal serupa dengan mengambil alih PT Solusi Kemasan Digital Tbk (PACK) dan mengubahnya menjadi PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk.
“Mereka menggunakan perusahaan listing agar dapat menarik modal dari investor lokal dan institusi melalui Rights Issue untuk mendanai proyek hilirisasi nikel di Indonesia,” jelas Ezaridho.
Bagi raksasa seperti Huayou dan CNGR, mengakuisisi emiten kecil seperti BLUE dan PACK jelas lebih cepat ketimbang IPO dari nol. Selain itu, keberadaan entitas publik di BEI bisa meningkatkan transparansi dan memperkuat profil ESG di mata investor global.
Pergerakan saham BLUE sendiri cukup dramatis. Year to date naik 117 persen, dan dalam setahun melonjak hampir 1.900 persen. Meski sempat terkoreksi saat pengumuman CSPA di tenggah pasar yang volatile, sentimen positif tetap kuat.
Aksi Dragonmine di BLUE ini bukan sekadar transaksi korporat biasa. Ini adalah sinyal. Indonesia kini tak lagi dipandang hanya sebagai penyedia bahan mentah, tapi mulai menjadi pusat finansial bagi para raksasa energi hijau dunia.
Artikel Terkait
Komisaris Utama TOBA Bacelius Ruru Mundur untuk Regenerasi
MCOL Gelontorkan Rp265 Juta untuk Eksplorasi Batu Bara di Kuartal I-2026
Triniti Land Group Akan Akuisisi Mayoritas Saham Prime Land untuk Perkuat Bisnis Hospitality
Sido Muncul Bagikan Dividen Rp1,09 Triliun untuk Tahun Buku 2025