Minat Publik dan Kinerja Harga yang Tangguh
Di tengah situasi tersebut, minat masyarakat Indonesia terhadap emas ternyata tidak surut. Berdasarkan survei World Gold Council, lebih dari 65 persen responden di Indonesia menjadikan emas sebagai kelas aset pilihan utama, baik dalam bentuk fisik seperti batangan dan perhiasan, maupun instrumen efek berbasis emas.
“Di tengah suku bunga deposito sekitar 3,5 persen, tren pembelian emas dinilai turut berkontribusi pada perlambatan konsumsi domestik,” ungkap riset tersebut.
Kinerja harga emas sendiri telah menunjukkan ketangguhannya. Sepanjang 2025, logam kuning ini tercatat naik sekitar 44 persen, melanjutkan reli impresif sebesar 33 persen pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini bahkan mengungguli berbagai kelas aset lain, mulai dari saham Asia dan global, obligasi, hingga komoditas lainnya.
Rekomendasi Saham Emas Pilihan
Menyoroti pasar modal, NHKSI memberikan sorotan pada dua emiten tambang emas. Pertama adalah PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang dinilai akan diuntungkan oleh pemulihan rantai pasok emas domestik serta ekspansi smelter nikelnya yang dapat menopang kinerja perusahaan dalam jangka menengah.
Rekomendasi kedua jatuh pada PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). Perusahaan ini dinilai memiliki aset yang prospektif.
“EMAS memiliki salah satu aset emas terbesar yang belum dikembangkan di Asia Pasifik, dengan potensi produksi puncak 500 ribu ons pada 2029 dan struktur biaya yang kompetitif secara global,” jelas laporan itu.
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
MCOL Gelontorkan Rp265 Juta untuk Eksplorasi Batu Bara di Kuartal I-2026
Triniti Land Group Akan Akuisisi Mayoritas Saham Prime Land untuk Perkuat Bisnis Hospitality
Sido Muncul Bagikan Dividen Rp1,09 Triliun untuk Tahun Buku 2025
IHSG Menguat Tipis, PEGE dan HDFA Melonjak di Atas 34%