MURIANETWORK.COM - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan kinerja keuangan yang kuat pada tahun 2025, dengan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp1,47 triliun. Angka ini tumbuh signifikan, sekitar 28 persen, dibandingkan realisasi tahun 2024. Peningkatan profitabilitas tersebut didorong oleh lonjakan pendapatan perusahaan yang menembus Rp28,65 triliun, sebagaimana terlihat dalam laporan keuangan perseroan.
Daya Ungkit Pendapatan dari Produk Utama
Pencapaian pendapatan yang melampaui Rp28 triliun itu tidak lepas dari kontribusi utama bisnis inti perusahaan. Mayoritas, atau sekitar Rp25,52 triliun, bersumber dari penjualan minyak sawit mentah (CPO) dan produk turunannya. Sementara itu, pendapatan dari inti sawit (palm kernel) dan turunannya menyumbang Rp3,12 triliun. Kenaikan ini terlihat jelas jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya, di mana pendapatan dari CPO dan inti sawit masing-masing berada di level Rp20,18 triliun dan Rp1,62 triliun.
Di balik pertumbuhan pendapatan yang pesat, beban pokok pendapatan perusahaan juga mengalami kenaikan menjadi Rp24,02 triliun. Namun, dengan pendapatan yang tumbuh lebih cepat, AALI berhasil meningkatkan laba kotor (gross profit) secara substansial menjadi Rp4,63 triliun pada 2025, dari sebelumnya Rp3,34 triliun.
Profitabilitas yang Menguat
Setelah melalui berbagai penyesuaian beban operasional dan kewajiban pajak, laba tahun berjalan AALI untuk periode 2025 akhirnya berada di angka Rp1,53 triliun. Dari jumlah tersebut, laba bersih yang menjadi hak pemegang saham induk perusahaan adalah Rp1,47 triliun. Peningkatan ini juga tercermin pada kinerja per saham, di mana laba per saham dasar (EPS) naik menjadi Rp764,65 dari posisi Rp596,22 di tahun 2024.
Komitmen Jangka Panjang Melalui Transformasi Digital
Menutup tahun 2025, manajemen AALI tidak hanya fokus pada angka-angka keuangan. Perusahaan menegaskan komitmen strategisnya dalam melakukan transformasi digital dan inovasi riset secara terintegrasi di seluruh kebun sawit. Langkah ini diwujudkan melalui anak usahanya, PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi (GSIP).
Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Djap Tet Fa, menjelaskan bahwa pendekatan ini merupakan bagian dari strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan. "Melalui digitalisasi, kami berupaya mengintesifikasikan lahan sekaligus memperkuat praktik perkebunan yang berkelanjutan," tuturnya dalam sebuah kesempatan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.
Salah satu tulang punggung strategi digital tersebut adalah penerapan Plantation Information Management System (PIMS). Sistem manajemen kebun berbasis data digital yang dikembangkan secara internal ini dirancang untuk mendukung pengelolaan operasional secara terintegrasi, akurat, dan real-time. Cakupannya luas, mulai dari aktivitas di kebun, transportasi hasil panen, hingga proses pengolahan di pabrik CPO.
Inisiatif seperti PIMS menunjukkan bagaimana perusahaan tidak hanya berorientasi pada hasil kuartalan, tetapi juga membangun fondasi operasional yang lebih efisien dan transparan untuk menghadapi tantangan industri di masa depan. Langkah ini dipandang sebagai upaya konkret untuk menjaga daya saing sekaligus mengelola aset perkebunan secara lebih bertanggung jawab.
Artikel Terkait
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global
IHSG Melonjak 1,03% di Awal Pekan, Mayoritas Sektor Berada di Zona Hijau